Inisial baru

Jaman dahulu kala sewaktu saya masih SMP, saya suka kagum dengan kakak kelas yang suatu waktu datang ke sekolah kami, mengajarkan baris-berbaris dan tata cara pengibaran bendera untuk upacara setiap hari Senin. Kakak-kakak kelas itu sudah kelas 1 SMA. Rasanya saya ingin bertanya, bagaimana rasanya menjadi lebih dari SMP? kayanya bagaimana, begitu. Pandangannya berbeda, cara berbicaranya berbeda, cara jalannya pun bebeda (pastinya agak jaga image di hadapan kami-kami yang seragamnya masih kelihatan dengkul).

Lalu sewaktu mahasiswa, ada alumni yang datang ke kelas kami, diperkenalkan oleh dosen bahwa ia adalah dosen kami juga yang sedang sekolah doktor di Jerman. Wah, kala itu tak terbayang, bagaimana rasanya terpilih untuk belajar dan sekolah lagi di luar negeri. Sepertinya, jauhlah- kapasitas otak saya untuk sekolah lebih tinggi lagi.  Lain waktu juga, setelah baca Para Priyayi-nya Umar Kayam, semakin kagum lagi, bahwa menjadi doktor itu adalah menjadi priyayi. 

Ketika jadi dosen-pun, melihat rekan dosen yang baru selesai sekolah doktor menjadi bertanya-tanya: bagaimanakah rasanya mendapat gelar itu? Seriously, how it feels to be a Doctor? Mendapatkan inisial baru yang legal untuk disematkan di depan atau belakang nama mungkin rasanya sangat nyaman. Mungkin bangun pagi akan terasa lebih segar, setiap makan serasa lebih enak, setiap pepohonan mengeluarkan bunga dan setiap hari tak pernah terlalu terik. Iya kah? Kok rasanya tak jauh beda dengan yang “satu” itu?

Padahal setelah mendapatkannya (sekali lagi, sama dengan yang “satu” itu), ya, begitulah. It’s a great feeling, it’s fun. Tapi lebih banyak khawatirnya. Karena setelah mendapatkannya, kita tak boleh lagi sembarangan. Tak boleh lagi asal mengeluarkan apa yang ada di pikiran ke dalam ucapan atau tulisan. Khawatir karena ada lebih banyak rambu yang harus ditaati dan apakah saya bisa menjaga beban dan tanggung jawab ini. Well, saya pikir menjaga image itu perlu juga. Menjaga agar ego tidak liar kemana-mana.

Menjadi doktor bukanlah tahu segalanya, kami hanya belajar lebih lama pada hal yang sangat kami suka.

Masih boleh asik-asikan menjadi diri sendiri? Wah, itu sih wajib.

Inisial baru ini semacam lisensi. Lisensi untuk memproduksi pengetahuan, menyebarkan pengetahuan. Saya melihat hamparan itu di horizon. Lebih banyak pekerjaan rumah yang harus di selesaikan, lebih banyak lagi calon-calon masalah yang harus dicari solusinya. Arena pertarungan baru terbuka di hadapan saya. Ini mungkin pertarungan sebenarnya.

Jadi, belum selesai?

Ini baru mulai. Mari kita bertarung.


Advertisements

About this entry