Uncle Boonme

Wow. Saya bangga sekali ada film Asia yang bisa memenangi Cannes festival. Beberapa  media di Barat memiliki opini yang beragam terhadap film ini dan mengapa sampai bisa meraih Palme d’or itu. Saya punya perasaan  kalau media-media yang me-review negatif film ini dikarenakan mereka tak sepenuhnya paham tentang inti cerita dan tradisi ketimuran yang kental sekali di film ini.

Tapi okelah. Menurut saya film ini sangat orisinil. Cerita dan temanya sebetulnya umum di orang-orang timur (Asia). Yang lebih mengherankan adalah teknik penceritaannya sangat lugas, biasa dan apa adanya. Mungkin sebagian menilai membosankan. Tapi bagi saya sebaliknya. Itu penilaian subjektif saya karena saya seperti menonton film Indonesia tempo dulu. Tanpa harus menjadi orang lain, pengambilan gambarnya-pun standar dokumentasi, tanpa sudut-sudut yang dramatis. Make-up effect dan desain kostumnya-pun luar biasa-biasa sekali. Saya sampai berpikir apa mereka menggunakan costume designer dan make-up artist untuk persiapan pengambilan gambarnya.

Kalau bukan percakapannya berbahasa Thailand, saya akan mengira ini adalah dokumentasi untuk Eagle Award :-). Setting-nya sangat mengingatkan saya dengan alam di Sumatera. Perilaku dan pakaian keseharian para tokohnya-pun sangat ‘pedesaan’ sekali.

Tapi dasyatnya justru pada dialog antara tokoh dan ‘hantu’ atau spirits (mirip seperti film-filmnya Tarantino). Banyak sekali kutipan percakapan yang membuat saya berpikir dan merenung  tentang makna kehidupan- yang kali ini diceritakan oleh seorang yang akan bersiap-siap untuk mati.

Ini bukti bahwa sekali lagi bahwa, what’s matter most is the storytelling.

Advertisements

About this entry