Menjaga Momentum

Mark Twain pernah menulis  kalau “Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn’t do than by the ones you did do”.

Memang bagi saya – dan menurut pengalaman saya, penyesalan yang lebih besar justru bukan karena kita salah langkah atau salah ambil keputusan atau kalah dalam keputusan-keputusan yang diambil di masa lalu.  Bagi saya justru kalau tidak melakukan hal yang seharusnya atau dirasakan patut dilakukan, itu namanya menyesal.

Biasanya akan selalu ada momentum yang diiringi oleh bisikan dari hati kecil untuk memaksa kita memutuskan atau melakukan sesuatu. Bagi saya lagi, hati kecil selalu benar. Dan jika sedang dalam masa momentum, ada semacam gaya internal yang membuat diri bersemangat, kepala dipenuhi oleh ide-ide, yang tak jarang pula ide ini belum tentu dilirik – kalau momentum itu tak ada. Namanya momentum, durasinya pendek dan sering sekali, ini saya lagi, ide-ide itu keburu hangus sebelum ter-materialisasi. Akibat momentumnya hilang.

Kalau hal itu terjadi, ya, saya tak 100% menyesal. Paling tidak ide tersebut ada proses kemajuannya. Siapa tahu nanti ada momentum baru dan saya bisa lanjutkan ide tadi.

Yang paling susah adalah trik menjaga momentum. Membuat setiap hari menjadi momentum-momentum dengan target-target yang bagi diri sendiri-pun dirasa luar biasa. Itu mungkin bisa membuat saya lebih menghargai diri saya, karena memaksa diri untuk keluar dari yang biasa.

Kalau sudah begitu tak akan ada yang saya sesali karena saya melakukan apa yang kata hati saya perintahkan.

Advertisements

About this entry