Kalah

Sometimes I won, sometimes I lose. I will not win everything.

Kalah memang sangat menyakitkan. Merasakan kekalahan mungkin adalah hal yang saya sangat hindari setelah sakit gigi atau sakit hati. Mengapa ya? Mungkin karena pada saat itu ego saya dipaksa ditekan hingga titik nadir dan membuat saya menjadi sangat kecil dibanding semua orang di dunia ini. Masalahnya ada di bukan pada kalah-nya itu sendiri, tapi pada ego-nya itu. 🙂 Kalau tidak salah juga, inti dari pengajaran-pengajaran agama dan spiritualistas adalah menjinakkan ego. Apa sih ego? saya pun tak tahu. Yang saya tahu, saya tak nyaman misalnya kalau saya kalah disaat saya merasa saya benar. Itu ego yang berkuasa. Saya selalu benar. Memang faktanya mungkin demikian.

Hukum positif akan melindungi kita kalau kita benar. Tapi tampaknya tak selalu ada situasi dimana kita benar dan kita akan menang. I admit it, I lose. This time. Sepertinya mudah, tetapi  susah juga kalau di hati, ego berteriak-teriak minta lepas dari kandangnya. Saya belajar terus menerus bagaimana menjinakkan ego dan menerima kalau dalam suatu waktu, saya kalah. Bukan harus, bukan karena. Saya kalah. Titik.

Ternyata kalau sudah melewati fase itu, alam semesta memberi saya hal lain yang jauh lebih baik. Bahkan saya merasa saya tak berhak untuk timbal balik yang tak sepadan seperti itu. Ya. mungkin sepadan dengan derajat kekalahannya sih. Tapi –sesuatu yang lain– yang ada setelah menelan kekalahan-kekalahan adalah yang mungkin yang biasa- dan sudah mulai berkurang nilainya– disebut sebagai hikmah. Mendapatkan hikmah sangat jauh lebih baik dibanding mempertahankan ego dan merasa menang.

Karena hikmah hanya ada ketika kita kalah, bukan merasa kalah. Kalah saja.:-D

 

Advertisements

About this entry