Second life

Bagian penting dari gaya hidup saya belakangan ini adalah video games (bukan belakangan ini, sudah semenjak 13 tahun lalu, ketika saya membeli Playstation pertama saya dari hasil menabung sendiri) . Ketika Microsoft membuat konsep Xbox Live dimana batas antara dimensi video games dan internet semakin tak ada, maka sangatlah mengasyikkan ketika saya bisa ‘eksis’ sebagai ‘casual gamer’ di internet (bukan ‘hardcore’ soalnya saya main yang asik-asik saja :). Malah mungkin nanti saya bisa ketemuan dengan orang-orang yang punya hasrat dan hobi sama. Dan kopi ‘virtual’nya tidak hanya di internet, melainkan langsung dalam bentuk avatar masing-masing, di konsol masing-masing dan bisa jadi siapa saja di-game ‘multiplayer’ yang dimainkan rame-rame.

Banyaknya memang jadi tentara bayaran atau ksatria bayaran atau pemain Real Madrid:-)  Sangatlah mengasyikkan bermain dengan 8-10 orang yang entah secara fisik ada di belahan dunia mana, namun di Xbox bisa saling koordinasi, saling serang, saling ‘misuh’ (pakai bahasa daerah masing-masing tentunya) dan semuanya menikmati kecanggihan teknologi game abad 21.

Saya tak tahu nanti di negeri saya, saya bakalan masih bisa menikmati Xbox Live atau hanya gigit jari kelingking kaki sendiri. Karena saya tahu koneksi internet masih dibawah 20mbps dan hampir semua game yang dimainkan di Xbox adalah ilegal. Bahkan sebagian besar Xbox-nya pun mungkin akan ditolak oleh Microsoft karena hasil “jailbreak”.

Hiks hiks.

Ah sudahlah.

Advertisements

About this entry