Dari Design Computing and Cognition 2010

DCC’10 yang ke-empat kali ini diadakan di Universitat Stuttgart, Jerman. Hitung-hitung saya kembali lagi ke sini setelah kira-kira delapan tahun lalu ya, saya di Erfurt, jalan_jalan ke Hannover dan Berlin.

Tak seperti dua konferensi yang pernah saya ikuti, konferensi ini pesertanya tak banyak, dan malah beberapa tokohnya papernya bolak-balik saya download. Agak ngeri juga soalnya kayanya konferensi ini tipe yang serius, akademis dan fokus pada apa yang akan didiskusikan. Dan memang itu yang diharapkan oleh John Gero sebagai Chair dari konferensi ini. Katanya setidaknya anda dapat pulang membawa satu saja ide baru yang konstruktif untuk riset anda, itu sudah bagus.

Ternyata yang grogi, nerveous menjelang presentasi tak hanya sebangsa saya saja, anak-anak bawang ini. Para research fellows, postdocs bahkan salah seorang professor ngaku selalu nervous. Katanya justru itu bagus dan bikin kita fokus pada apa yang akan dipresentasikan. Asal tidak kebanyakan mah.

Di ajang ini sekali lagi pikiran saya terbuka mengenai dimensi ranah riset desain yang belum pernah saya tahu sebelumnya. Di sini orang-orang dari architecture, industrial design, mechanical engineering, psychology bahkan neurology pada asik sekali debat diskusi perihal proses yang namanya desain. Wah, kita sudah bicara tentang neuroscience dan design process, artificial intelligence dan heuristic method in creativity.

Tapi horror sesungguhnya adalah ketika presentasi tiap peserta yang papernya diterima. Tidak ada parallel session, jadi setiap peserta presentasi di hall utama dan sesi tanya jawab untuk tiap peserta bisa sampai 30 menit.

Dulu saya bilang kalau setiap konferensi itu sesungguhnya adalah sidang. Well, ini adalah sidang kedua saya selama menjadi pelajar doktor.

Wuih, cukup banyak komentar dan tanggapan dan pertanyaan mengenai riset saya. Aneh bin ajaib sayanya kok  cuek saja jawab sana- sini dan anehnya Inggris ngalir langsung-langsung saja. Mungkin ini namanya post-boring syndrome. Sudah boring abis tiap hari ngerjain hal yang sama, jadi whatever happen, let’s get it on! Hajar bleh -lah.

Tapi asiknya para professor yang bertanya, mempertanyakan ini-itu  selalu membuat saya encouraged. Selalu ada hal baru yang mereka tawarkan, menawarkan sudut pandang baru atau malah seperti John Gero, menawarkan saya membaca sebuah buku klasik.

Itu asiknya kita dikelilingi oleh peers. They nurture you, not torture you.

Advertisements

About this entry