Merpati

Ketika jam 08.00 malam ini menunggu kereta di stasiun Tamachi, tiba-tiba ada merpati mampir dekat kaki saya. Weh, weh mungkin lapar ya, jauh-jauh turun ke stasiun walaupun belum tentu juga ketemu remah-remah. Apalagi ke saya, kan sama-sama laparnya. Malah kayanya lebih lapar saya dibanding situ, pikir saya.

Tiba-tiba saya ingat dengan burung merpati yang saya kenal, dulu waktu saya di Helsinki, circa 2006. Kebetulan datang ke sana pas musim panas, bulan Agustus kalau tidak salah. Jadi jam 11.00 malam masih ada mega. Langit belum gelap. Boro-boro tidur, pertama karena masih ada matahari, kedua karena punya kebiasaan jalan-jalan malam di kota yang belum pernah didatangi, ketiga karena lapar. Pas betul, jadilah saya keliling-keliling alun-alun sebelah hotel pas di jantung kota Helsinki. Ternyata di sini sama saja. Mac Donald’s sudah tutup, yang buka hanya bar (persis seperti di kota-kota di Jerman). Sebelah sana setasiun kota, sama saja pada sepi. Mungkin setasiun  yang ramai hampir 24 jam hanya di Tokyo. Kalau di tempat saya dulu sih ramai juga, tapi ramai pedagang dan penghibur malam (Jogja, Bandung), hehehe.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, ada penjaja makanan. Kalau nggak salah ingat sih chicken roasted sama fried potatoes-lah gitu. Langsung saja tancap dan untung do’i bisa bahasa Inggris. Jadi klop. Tinggal makannya di mana? Kalau di tempat saya mah, pedagangnya dan pembelinya kreatif, pada nggelar koran, tiker atau duduk di mana saja. Pelayan akan datang. Tapi di sini, entah makan berdiri atau bawa ke hotel. Lagi pula bersamaan dengan itu kawanan merpati pada datang.

O, ternyata malam-malam mereka pada lapar.Kasihan juga. Saya beri remah sedikit, eh, dua-tiga merpati ngikutin kemanapun saya pergi. Bukannya kasar, mereka jinak sekali, malah akhirnya kami makan di teras depan National Museum of Art. Mungkin malah pada saat itu saya ajak ngobrol mereka. Ternyata mereka sekeluarga, bapak, ibu dan anak. Wah, anaknya tampaknya lapar sekali, paruhnya terus-terusan mematuk-matuk remah dari kentang yang saya beri.

Sesekali kami tertawa, lucu sekali orang-orang malam-malam masih keliaran.

Akhirnya singkat sekali makanan saya habis. Masih ada sisa tulang yang tampaknya sang bapak ingin, ya, saya beri saja. Sembari saya bilang, saya mungkin tak akan pernah kembali ke sini lagi, jadi baik-baik ya.

Mereka girang sekali sembari langsung terbang ke menara depan setasiun.

Sedih juga.

Katanya merpati tak pernah ingkar janji.

Advertisements

About this entry