Rejection and Acceptance

Adalah biasa (katanya) untuk kecewa dan merasa gagal bilamana karya tulis hasil riset yang kita buat ditolak mentah-mentah oleh sebuah jurnal (peer reviewed dan apalagi punya impact factor). Katanya lagi, itu sudah bagian dari perjuangan seorang pelajar – yang bukan ditentukan oleh pembimbingnya saja, melainkan oleh komunitas-nya di dunia. Terlebih lagi, bila jurnal ini bukan dari jurnal di mana keilmuan kita berada. Salah sendiri saya berada di area abu-abu, antara arsitektur dan teknologi informasi (computer science). Lima belas tahun saya belajar arsitektur dan kali pertama saya submit tulisan ke Transaction IEEE – ya, langsung ditolak. Saya tidak seharusnya kecewa, kali – tapi tetap saja, saya merasa kecil sekali. 🙂

Well, katanya lagi yang paling penting adalah bagaimana rasa kecewa itu tidak menjadi masalah buat kita untuk tetap bersemangat meneruskan dan memperbaiki apa yang salah sebelumnya. Wuih, teori sih mudah. Menerima bahwa saya belumlah cukup pintar untuk sekedar masuk ke publikasi-nya IEEE sih saya bisa lakukan, walaupun tetap membuat saya penasaran.

Suatu saat nanti, deh.

Untungnya the next best thing datang buat saya. Kali ini adalah salah satu puncak-puncak publikasi di area abu-abu dimana arsitektur, desain dan komputasi bertemu. Konferensinya bernama: Design Computing and Cognition 12-14 July 2010, University of Stuttgart dan prosidingnya akan dipublikasikan oleh Springer. Artinya bisa dibeli di Amazon, wkwkwk. Kalau kalangan electrical engineers bangga dengan IEEE-nya, saya mah cukup bangga bisa masuk di DCC, hihihi. Mungkin saya sedikit beruntung bahwa paper saya diterima dan sekaligus bisa diikutsertakan untuk dipublikasikan (38 paper dari 128 submission) wah, lumayanlah. Bisa dibilang saya harap-harap cemas untuk yang ini karena ini salah satu target ambisius saya selama menempuh PhD. Namun mungkin ini hanya ambisi pribadi karena tetap, bagi sekolah saya, ini masih terhitung prosiding konferensi – bukan jurnal, walaupun di-review oleh empat reviewer, lho. 😦

Tak apalah, saya bersyukur sudah bisa publish untuk pertama kali.

Semoga yang lain bisa menyusul.

Advertisements

About this entry