Ikigai

Alhamdulilah, Dhana – still my only little princess, baik-baik saja hidupnya dan konon sudah gemar sekali membaca dan menulis dan menggambar. Celotehannya sudah banyak sekali yang hanya bisa saya bayangkan lewat telepon. Meski sekarang si dia masih di nol(kecil), saya rasa dia  musti ke nol (BESAR) dulu. Main-main yang banyak dulu, masuk ke sekolah dasar itu sudah sangat serius untuk anak-anak. Nggak ada main dan tidur siang, nggak ada mandi bola dan menanam kecambah. Saya merasa perkembangan intelektual harus sejalan dengan motorik dan sosialnya. Katanya in harmonia progressio. Saya sudah merasa bersyukur kalau si dia jadi anak yang normal. Masih anak-anak harus normal, kalau sudah dewasa baru bisa luar biasa. Kurva “S” nya harus normal dan tidak dipaksakan. Nggak berarti anak yang ‘peak‘nya di SD atau SMP, akan bisa mulus ke atasnya. Lagipula kalau dia masuk SD, saya musti ada di sampingnya – itu cita-cita saya.

Inilah kenapa.
Dulu ketika saya masih di Sekolah Dasar, saya selalu juara kelas bahkan sempat jadi murid teladan ketiga segala, di tingkat kabupaten. Juara melukis tingkat macam-macam. NEM termasuk lima besar di kabupaten. Baru ketika di SMP saya kecanduan pramuka dengan segala aktivitas yang tampaknya mengasyikkan. Walaupun demikian saya masih bisa juara sekolah ketiga di waktu kelas dua dan NEM saya masih terhitung luar biasa di skala daerah hingga bisa masuk kelas elit di SMA nomor satu di kabupaten saya. Luar biasa kehidupan SMP itu, puber dan petualangan. Ketika SMA saya mulai kendor sebentar karena banyak main dan kenal dengan yang namanya cinta monyet (bukan jatuh hati dengan monyet). Namun ketika pindah SMA di Yogya, saya bisa kejar lagi, walaupun akhirnya saya tahu dan sadar kalau saya lemah di eksakta (entah karena malas belajar, karena pengajar, wah faktor ini unlimited kayanya). Meski akhirnya bisa ke ITB dengan bidang yang memang sangat saya cintai sejak kecil, saya tak pernah membayangkan bisa sekolah terus hingga sekarang.

Saya tak pernah dipaksa untuk jadi juara, itu sudah nasib saja punya bibit dan bobot dengan tingkat seperti itu. Intinya adalah, kinerja dan capaian itu musti sesuai dengan “passion” atau kata orang sini mah: “ikigai” dan visinya. Saya ngebut secara tak sadar di usia anak dan remaja dan kehilangan orientasi sebentar di usia sangat produkstif yang bikin saya agak terlambat tahu “mau jadi apa”.

Saya ingin memperbaiki apa yang saya dapat di keluarga saya dan menerapkan ke putri kecil saya itu. Untuk menjadi bapak yang ada di sampingnya dan bisa menjawab semua pertanyaannya, dan jadi teman baik yang bisa mendengar semua keluh-kesah dan cerita-cerita hebatnya. Pastinya itu luar biasa susah, tapi saya mulai terbiasa dengan kegagalan.

Advertisements

About this entry