Liburan Deui

Saya sering merasa serba salah kalau sudah menyangkut libur tahun baru. Lebih dari tiga hari di rumah itu sudah sampai tahap membosankan. Sedangkan sekolah memaksa kami-kami untuk ‘libur’, maklum kalau tidak  mungkin saya akan ‘keukeuh‘ ke lab. Sekolah mematikan semua fungsi otomatisnya: gerbang utama, pintu lab, lift, AC/heater jadi secara tidak langsung membuat kami harus tidak bersekolah. Salah satu yang membuat saya pernah gagal adalah karena saya suka sekali berada di sekolah.

Ada yang bisa saya ambil dari hal ini.

Karena liburnya libur tahun baru, di mana-mana ramai sekali dengan orang yang berbelanja. Saya sangat suka belanja, sepanjang itu sesuai selera dan dompet saya tentunya. Namun kelemahan saya adalah sering merasa pusing di tengah keramaian dan hilang orientasi. Jadinya tak bisa menikmati kesenangan di tengah keramaian. Ini juga berlaku di daerah yang paling sering saya kunjungi – Akihabara. Kalau sudah terlalu ramai macam ini, saya menyerah dan mojok di toko game bekas.

Tak ada alternatif tempat nongkrong di seputaran Tokyo ini yang tak ramai. Dan tempat-tempat asik yang bisa dijangkau dengan kereta juga sepertinya ya, itu-itu saja. Saya toh bersyukur karena berada di Tokyo, coba kalau di Vladivostok – akan lain sekali ceritanya. Hanya saja menikmati itu semua tampaknya akan lebih berasa bersama teman-teman.

Biasanya ketika mulai liburan saya komit akan satu hal yang menarik buat saya, dan itu saya kerjakan selama liburan. Kebiasaan ini lumayan efektif untuk menghilangkan jenuh (asal kegiatan ini sama sekali tak berhubungan dengan riset..hiiii). Liburan kemarin saya menulis artikel untuk sebuah jurnal lokal di Indonesia yang walaupun belum ada tanggapan untuk proses selanjutnya, saya merasa telah mengerjakan sesuatu yang fulfilling. Pada saat yang sama saya juga asik saja  menamatkan beberapa game di X360 dan belajar sesuatu yang baru di gitar akustik saya. Ternyata menulis itu memang jauh lebih susah dibanding membaca apalagi bicara. Jadi membuat buku tentu akan sangat sulit. Jadi benar adanya kalau ada yang bilang bahwa adalah dosa bila ada buku-buku yang dibakar. Namun kayanya lebih berdosa apabila buku-buku tersebut tak dibaca.

Tapi, piraku liburan tahun baru dihabiskan dengan mikirin tulisan? Tulisan jurnal, konferensi  atau game Modern Werfare 2 akan sama asiknya kalau saya memandang keduanya sebagai tantangan sekaligus petualangan baru.

Saya cuma agak takut jangan-jangan saya sudah beralih dari homo ludens ke homo-seurieus 😛

Advertisements

About this entry