Kasihan

Ada seorang wanita yang ingin sekali hadir di sebuah acara pesta.
Pesta itu meriah, yang hadir adalah kalangan atas dengan busana serba glamor.
Sang wanita ingin sekali hadir karena merasa sudah sepantasnya.
Aku sudah cukup cantik, siapa tahu semua mata akan berpaling padaku, katanya.
Sayangnya ia tak punya busana yang pantas, atau yang lebih pas, tak punya busana yang bisa membuat dia lebih PD.
Karena memang ia hanya punya busana untuk keseharian.
Tak ada pesta, pesta itu kosa kata baru.

Akhirnya wanita itu mencomot jemuran milik tetangga.
Ah, sudah malam belum diambil juga, katanya. Baik aku pakai.
Lagipula tetangga sedang asyik menonton TV, tak sadar jemurannya lenyap.
Wanita itu tampak yakin berbalut busana comotan.
Kedodoran di sana, kesempitan di sini, tak masalah yang penting gaya.
Lagipula, ibunya tak pernah mengijinkan ia berdandan seperti itu. Pakai busana curian lagi. Dari jemuran, lagi.
Tak apalah, ia ingin berontak dari dulu juga.
Ibunya tak pernah mengajarkan gaya, gaya itu kosa kata baru.

Sambil mematut diri di cermin, wanita itu berpikir.
Tetangga itu  bodoh atau lugu? Mereka miskin dan malas angkat jemuran.
Anak-anak mereka selalu ribut minta jatah makan, ribut perihal mainan.
Tapi mereka punya selera. Lihat saja anak-anak mereka, terlihat bagus dan cantik.
Meski kadang-kadang bajunya tak disetrika, mereka punya selera.
Mungkin ibunya pandai dan lebih funky.
Miskin dan berselera. Kok bisa, ya?
Aku, kaya tapi seleraku payah.
Aku, kaya tapi aku ingin bebas.
Aku, kaya tapi tak punya imajinasi.
Aku, kaya tapi patut dikasihani.

Advertisements

About this entry