Abundance vs Scarcity

Saya mencari padanan kata-kata di atas dalam bahasa Indonesia dan belum ketemu, jadi saya tulis saja dalam bahasa sono-nya. Lagi pula dalam semiotika, tak masalah apa simbol-simbol dalam bahasa itu sejauh maknanya bisa dijangkau, ya kan?

Itu adalah fenomena terkini yang kemarin di Wired edisi Juni ditulis oleh editornya, Chris Anderson. Di dalam dunia yang serba terkoneksi (dengan cepat), serba terintegrasi, serba kecil, benar juga ya, ada sebagian sumber daya yang dulunya langka (scarce), sekarang ini menjadi lumrah di mana-mana ada (abundant). Setidaknya di dunia maya. Dan apabila masih ada pihak yang menyangka dunia maya itu jauh di awang-awang dan tak menyentuh apapun secara fisik, lihatlah fenomena Facebook yang katanya sudah menjangkau 200 juta pengguna. Itu mah, sebanyak rakyat Indonesia. (btw, saya satu diantara sedikit yang sudah sign-out). Google sudah menjadi adidaya baru yang menjadi sangat besar karena satu: informasi. Kalau Google hidup dengan mencari informasi melalui logika matematis, Facebook hidup dengan mencari informasi melalui pertemanan. Keduanya ujungnya sama-menyajikan informasi paling tepat sesuai keinginan kita tapi pendekatannya berbeda. Keduanya tahu betul bahwa sumber daya yang abundant itu harus dikelola.

Kalau dulu seseorang menjadi ahli karena menguasai sumber daya langka yang tak semua orang punya akses. Misalnya sekolah, laboratorium. Sekarang hampir seluruh informasi tumplek-bleg di internet. Semua orang bisa akses, semua orang bisa jadi sangat menguasai bidang tertentu tanpa harus ke sekolah (kalau sekolah diartikan sebagai lembaga pemberi informasi). Informasi (dan pengetahuan) bukan lagi sumber daya yang langka dan seluruh energi yang ada di sekolah seharusnya diperuntukkan untuk bagaimana mengelola itu. Isunya bukan lagi ketiadaan referensi melainkan referensi mana dan  bagaimana menghasilkan yang baru. Pastinya susah banget dan tantangannya berbeda. Kalau dulu otak kita kebanyakan idle karena kekurangan informasi (dan saya selalu membayangkan punya uang lebih banyak untuk bisa beli buku), sekarang bagaimana kalau otak kita kelelahan karea kebanjiran informasi? Be careful of what you wished for...

Abundance juga memberi ruang sangat luas untuk yang namanya transparansi. Kalau dulu orang merasa ahli karena orang lain tak tahu apa jualannya dan apa bahannya. Sekarang orang bahkan sudah tahu beli dimana saja bahan-bahan buat jualan itu. Dalam era informasi ini,  tak ada ruang untuk pura-pura. Benar juga kata kolega saya dulu, buat apa takut untuk mempublikasikan tulisan di internet? Pertama kalau tulisan itu bikinan kita sendiri, apalagi. Kedua kalau ada yang memberi masukan, malah lebih bagus. Ketiga kalau tulisan itu dihujat saking jeleknya, ya itu bagus buat memperbaiki tulisan kita di masa datang. Jadi apa masalahnya?

Salah satu yang saya pikir bisa meningkatkan kompetensi (atau kompetisi?) para sekolah di negeri saya adalah: high-speed internet access.!!

Advertisements

About this entry