Nerveous complex

It’s killing field…

Adalah semacam rasa ini bagi seseorang yang menyandang status sebagai pelajar. Itu adalah nerveous. Nerveous tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan riset yang sedang dijalani. Apalagi bila riset itu harus diutarakan, dikomunikasikan ke orang-orang – bukan awam– yang jauh lebih mengerti apa yang kita lakukan. Jadi, saya sendiri merasa, akan selalu menjadi hitbox. Saya- yang cenderung skeptis- selalu punya rasa tak percaya diri walaupun apa yang saya selama ini geluti benar-benar saya kuasai (setidaknya begitu yang saya percaya, saya baca puluhan buku, jurnal bahkan sampai lupa saya sering download ulang). Tentu saja itu tidak akan pernah cukup dan harusnya tak usah mengganggu rasa gengsi saya, kan? Namanya juga mau jadi guru. Rasa nerveous itu kadang semakin menggila dan cenderung menutup simpul-simpul neuron penghubung ke arsip-arsip di kepala saya. Jadinya kadang saya lupa mau ngomong apa.

Itu kejadian sesaat sebelum saya melakukan presentasi di hadapan para peserta konferensi dalam sesi paralel. Para profesor itu gemar sekali bertanya, komentar, memberi masukan dan kadang menguji tingkat kedalaman dan pemahaman riset yang kita lakukan. Para peserta lain yang Ph.D student macam saya? sibuk menyiapkan PowerPoint, pura-pura nunduk, melongo karena ngantuk so and so forth. Siapa bilang Ph.D student hanya disidang ketika akhir desertasi? Di setiap tiap peer-reviewed conference macam ini kami akan selalu disidang. Belum lagi nanti kalau coba masuk ke jurnal. Di konferensi seperti ini, kami adalah warga kelas dua, eh kelas tiga kalau para post-doc dihitung.

Ternyata ketika sedang presentasi, saya merasa flow saya baik-baik saja, tak ada nada bergetar karena grogi, tak juga kepala tertunduk dan tak melakukan kontak mata dengan para singa itu. Mungkin karena saya akhirnya berujar: hajar bleh..hehe. Inggris ala saya mengalir saja. Sampai pada sesi tanya jawab, saya merasa menghadapi regu tembak. Saya pun merasa dengan sangat pede-nya menjawab salah satu pertanyaan yang ternyata kok ya sudah saya duga, jadinya saya agak show-off hihi. Dulu saya  paling takut dengan tanya jawab, karena bahasa Inggris saya terbatas, jangan-jangan saking paniknya saya malah jawab dengan bahasa Indonesia lagi, kan gawat.

Tapi ternyata sejauh ini oke. Saya bisa pede juga. Para profesor itu beri saya beberapa masukan, meminta saya menjelaskan (dan berarti menguji sejauh mana pemahaman saya). Saya belajar banyak dari mereka itu, cara mereka melihat masalah, melihat konteks, menimbang-nimbang metode, melihat yang tak saya lihat. Mungkin karena itu mereka jadi profesor, tak hanya pintar, tapi bijaksana dan sangat hati-hati.

Rasa nerveous itu justru bagus menurut saya dan jangan hilang ketika kita sudah lepas dari segala proses ini. Itu membuat kita cermat dan hati-hati. Saya  pikir kehati-hatian adalah bagian dari kebijaksanaan.

Ya, setidaknya sensei saya tak cemberut hari ini.

Advertisements

About this entry