Netral-kah?

Entah, ini sudah berapa kali saya baca dan lihat di berbagai novel fiksi atau film fiksi ilmiah. Mulai dari mendiang Crichton, Dean Koonz sampai Dan Brown. Salah satu atau beberapa kisah dalam novel mereka umumnya tentang konfrontasi antara pengetahuan (knowledge) dan norma kemanusiaan, susila bahkan agama. Apakah pengetahuan itu bebas nilai alias netral? Bagaimana ya, batas antara kekuatan manusia sebagai “mahluk paling sempurna” dengan ranah-nya kerajaan Tuhan? Apakah pengetahuan itu semacam perangkat? jadi tergantung (lagi-lagi subjektif) siapa yang menggunakan? Katanya tak ada itu baik dan buruk di pengetahuan. Jadi- riset dalam ranah nano, kombinasi DNA dan anti materi seharusnya tak dikait-kaitkan dengan isu anti-Tuhan dan akhir dunia, dong. Jadi- tak ada itu black/white magic, hanya magic saja, dong. Jadinya, tak boleh dong ada acara larang melarang buku?

Isu ini luar biasa kompleks menurut saya. Kita manusia diberi dua buah kekuatan super dasyat: otak dan nafsu. Saya termasuk yang yakin suatu saat pengetahuan bisa buka sekat-sekat yang selama ini menjadi wilayahnya kerajaan Tuhan. Dan seperti kata sang Charmelegno di Angels and Demons : Agama sudah capek, manusia sekarang ini terlalu mengandalkan rasionalitas dan menganggap agama hanya dongeng masa kecil saja. Padahal agama yang tahu bahwa rasionalitas tanpa batas hanya menuju pada penghancuran diri sendiri.

Saya merasa Angels dan Demons di buku itu adalah agama dan pengetahuan.

Agama itu jadi semacam counter balance dari nafsu manusia untuk berkembang. Sama sekali tak salah untuk berkembang, bahkan harus – kan? Yang terasa tak seimbang sekarang ini adalah armada agama tak sepadan dengan armada pengetahuan dengan panglimanya yang luar biasa tak tertandingi yakni teknologi. Sementara panglima agama masih seputar petuah yang tak empiris, normatif dan berumur ribuan tahun. Bagaimana ya, mengawal kemajuan dan perkembangan akibat nafsu dan otak itu hingga tak jadi self-destruction? (mungkin belumlah terlalu meyakinkan kalau membawa-bawa surga dan neraka – atau life after death karena tak empiris).

Lagi-lagi saya tak tahu pasti.

Yang mungkin saya kira membantu adalah, yang kecil-kecil dan dekat saja. Pengajaran budi pekerti sedari kecil, terus-menerus dan konsisten dengan perilaku sendiri. Semacam pelajaran PMP tapi tanpa embel-embel ideologi-politik-apalagi hapalan. Agama bisa jadi intinya, namun tanpa menakut-nakuti dengan segala dongeng yang susah dicerna akal. Agama bisa didekati dengan hati saja atau common sense. Silabusnya hanya satu: bagaimana menjadi manusia yang baik hatinya. Itu kayanya susah setengah mati. Mungkin para intelektual dalam bidang ini bisa mulai melihat potensi riset yang besar di sini.

Advertisements

About this entry