Chainshaw flavoured bowling

Saya sudah dua kali ikut main bowling bareng anak-anak (Gaijin, Nihonjin). Olah raga ini tak pernah saya dekati sebelumnya, karena saya (merasa) tak bisa – seperti halnya basket, bilyar. Tapi ternyata sudah kali ini pula skor saya tak terlalu buruk, bahkan kok ya– bisa menyabet cinderamata karena skor saya tertinggi di grup saya. Padahal itupun strike-nya hanya dua kali, miss alias masuk selokan juga dua kali. Ya, sangat mungkin karena teman-teman satu grup saya juga performanya tak terlalu bagus, hihi..

Bagaimana bisa bikin strike? Itu masih jadi misteri buat saya. Apakah ada faktor berat bola, kecepatan dan impak , puntiran dan target? Atau malah faktorya adalah kepercayaan diri alias PD aja lagee? Habisnya- malu euy, sudah lempar- tahunya masuk selokan… Tapi kan katanya rasa takut itu adalah hal yang perlu kita lakukan berikutnya.  Jadi kalau takut-takut lempar – ya, obatnya, lempar aja bleh. Malu-malu submit paper, submit aja lagi, paling buruk ya- ditolak. Bagusnya? kita jadi tahu mana yang perlu diperbaiki.

Eitts..ulah ngomongkeun riset atuh. 🙂

Hal baru yang saya alami di main bowling kali ini adalah, saya berkenalan dengan anak muda Jepang yang (ini salah saya) dari penampilannya saya berpikir ini anak pastinya kutu buku- paling tidak- hidupnya lurus-lurus ajadah. Kaca mata, kasual, sangat hormat dan merendah (ini mah seluruh Jepang begini). Wah, taunya setelah ngobrol, ternyata dia penggemar berat Gears of Wars – FPS di XBox 360 yang R-rated (explicit violences). Sumpah kecebur sumur saya nggak nyangka ..hehe. Akhirnya kita ngobrol panjang lebar tentang game-game XBox 360 sampai mau join online game di Modern Werfare segala. Ini seperti teman Postdoc di lab saya dulu. Orangnya diem (agak jaim, biasa- sempai dan postdoc pula), kaca mata, kasual (tak pernah terlihat pakai T-Shirt). Ternyata dia penggemar berat Heavy Metal!, punya diskografi lengkap mulai dari Iron Maiden, Judas Priest sampai band aneh-aneh macam Carcass, Entombed…hiii gelo. Ujung-ujungnya saya dikasih gratis seluruh koleksi musiknya (bahkan yang di iTunes).

Heh, Nihon-jin(orang Jepang). Mereka kayanya silent speaks volume. Mereka kayanya pemalu- dan jangan sekali-kali mikir mereka tak mengerti bahasa Inggris (mereka hanya malu kalau berbicara), merendah dan cenderung meng-iya-kan apapun yang dibicarakan. Tapi begitu sudah kenal, wah kayanya sparing partner yang bermutu juga.

Sayangnya saya susah sekali untuk belajar bahasa Jepang. Entah kenapa. Mungkin LQ (Language Quotient..hihi) saya rendah pisan.

Yah, nanti kalau dikasih kesempatan juga ada saatnya.

Advertisements

About this entry