Natal di E3 2009

Dulu di buku The Road Ahead, Bill Gates pernah menyatakan kalau di Microsoft, setiap kali akan memulai sebuah proyek selalu dimulai dari membuat visi – segila, sedasyat mungkin dan ide-ide itu bisa datang dari mana saja: desainer, programmer, manajer. Buku itu pertengahan tahun 90-an. Hampir dua puluh tahun dari buku itu terbit, Microsoft masih tetap pada misi semula, memulai revolusi dengan visi. XBox (360-Live), Microsoft Surface adalah manifestasi dari ide dan visi sebagian dari tim di Microsoft. Yah, tentu saja ide dan realisasi ini tak akan bertahan lama tanpa dukungan mesin-mesin marketing dan manajemen. Tapi intinya adalah, bila segala sesuatunya mendukung, company dengan aset orang-orang kreatif ini tinggal menunggu waktu untuk membuat revolusi dan sejarah baru.

Di E3 tahun ini, XBox tampaknya membuat sejarah baru. Saya merasa awalnya sudah tampak ketika Nintendo unjuk gigi dengan mengubah paradigma bermain game melalui motion sensor di tahun 2007 lalu. Ketika itu semua antusias bahwa bermain game tak lagi butuh controller yang rumit dan hanya untuk orang-orang muda yang masih gesit. Pengalaman bermain game akan lebih terasa jika kita serasa ikut berada di dunia game tersebut. Saat ini teknologi yang sedang hot tampaknya adalah teknologi sensor. Motion sensor, facial recognition, voice recognition, haptic (saya ingat dulu coba teknologi haptic dalam bentuk  mouse di TGS 2007). Tampaknya hanya indera penciuman saja yang (belum) berguna untuk bermain game.

Aplikasi teknologi motion sensor dan haptic (tactile sensor) saat ini sudah banyak, dari mulai yang jaman baheula: Sega Racing  sampai yang terkini:  Wii fit, Guitar Hero dan Rock Band, DJ Hero dan yang terbaru kemarin di E3 adalah Tony Hawk’s Ride, dimana controller-nya adalah skate-board ‘beneran’.

Dan tak perlu kabel lagi.

Wah, tampaknya belum cukup. Pengalaman bermain game ternyata masih terkendala dengan masih adanya controller. Entah itu berupa joystick, default controller, atau yang sudah menjelma menjadi semacam gitar, drum dan board. Kata Spielberg, revolusi game dimulai dengan teknologi yang semakin tak terlihat (invisible). Dan kenapa kita masih butuh controller kalau diri kita sendiri bisa menjadi interface sekaligus controller? Ini dia visinya, Natal.

Natal adalah teknologi di XBox360 yang memungkinkan kita berinteraksi dengan game tanpa controller. Bayangkan semacam dalam Minority Report atau Ironman tapi tanpa hologram – masih layar 2D. Tapi ini luar biasa hebat. Orang-orang di Lionhead Studio (Fable II) sudah mulai membuat permainan dimana interaksi antara manusia dan komputer (game console) bisa naik ke level yang lebih tinggi lagi, dunia game dan pemainnya semakin jadi satu. Saya membayangkan kalau teknologi sensor dan AI  sudah demikian maju, mungkin teknik dan metoda simulasi bisa jauh berkembang (benar-benar di Minority Report, tapi belumlah kalau seperti di Caprica).

Advertisements

About this entry