Menjadi Guru

Suatu saat ada yang bertanya ke saya, “Setelah ini, kamu mau jadi apa?“. Pertanyaan ini ada setelah saya cerita bahwa saya sekarang sedang menempuh studi doktor. Saya bilang bahwa saya akan menjadi dosen saja. Lalu, sebentar kemudian dia  bilang, “Heh, mulia amat.” Saya spontan nyengir (kuda) saja, tapi setelah lama- saya jadi berpikir ada sesuatu di pernyataan itu. Pertama-tama saya harus merasakan dulu, mengapa saya spontan bilang kalau saya akan jadi dosen? Di luar kenyataan bahwa sekarang ini saya memang sudah berstatus resmi sebagai dosen yang sedang tugas belajar. Ternyata setelah 10 tahun kesana- kemari, hati dan jiwa saya tetaplah di kampus. Saya menyukai iklim akademia, iklim dimana ilmu dan pengetahuan menjadi bahan pembicaraan dan nafas keseharian. Di dunia yang ‘steril’ ini tak kenal istilah ‘membosankan’ karena akan selalu ada yang baru : ilmu, pengetahuan, teknologi, bahkan orang-orangnya akan selalu baru. Di sini pembicaraan dan topik selalu seputar ‘terkini’, prediksi, inovasi. Sebelum seluruh dunia tahu, kitalah yang tahu lebih dulu (setidaknya di teori, kalau itu belum menjadi kenyataan), kita berada di lab. embrio dari tunas-tunas yang nantinya akan jadi agen-agen peradaban. Kita selalu menggali yang sudah ada untuk mencari apa yang kurang, mempertanyakan segala sesuatu dan memahaminya sebelum akhirnya menawarkan solusi-solusi. Walaupun tak mungkin bebas nilai, tetapi mayoritas nilai-nilai yang berlaku adalah kemuliaan pemikiran. Kita berpikir, maka dari itu kita sekolah. Yah, kalau dari sisi ini kata mulia di atas memang ada tempatnya. Di sekolah pada fitrahnya, tak ada perkeliruan. Perkeliruan boleh sebatas lingkup studi.

Saya juga ternyata kangen mengajar. Saya senang menularkan sesuatu ke orang lain. Paling senang bila memberi ilmu ke para mahasiswa/i dengan tatapan-tatapan ingin tahu – seolah-olah di kepala mereka ada pemancar yang siap download semua yang saya bicarakan. That moment is priceless. Apalagi kemudian apa yang saya berikan menjadi inspirasi buat mereka dan kemudian mereka bisa capai sesuatu yang lebih tinggi dari itu. Itu sangat membahagiakan. Setidaknya, itu yang saya rasakan selama ini.

Itu sih bukanlah mulia, seperti halnya perempuan melahirkan atau tanggung jawab orang tua terhadap anak. Itu memang sudah seharusnya. Dan saya senang bila saya berhasil melakukan peran yang saya jalani. Menurut saya semua profesi itu mulia, kalau dijalani dengan senang dan ikhlas. Namun, sedikit di hati kecil saya bilang kalo profesi macam saya kadar mulia-nya mungkin dipandang orang-orang sedikit lebih baik, karena apa yang selalu kita lakukan adalah memberi.

Ah, saya tak tahu apa dalam pernyataan di atas, ada kadar meledeknya. Profesi ini di negeri saya memang masih belum dihargai secara normal dalam hal finansial. Untuk hidup normal saja tampaknya masih harus berjuang lebih dan terkadang menjauhkan diri dari yang mulia tadi itu. Tapi bagi saya, ukuran kebahagiaan jauh lebih dalam dari sekedar itu.

Klise, tapi ini hidup yang saya pilih, bukan yang saya terima.

Advertisements

About this entry