Good Toilet, Good Bussiness

Pekan lalu saya baru pulang kampung dan sengaja merasakan tiga jenis toilet umum yang berbeda. Pertama di penerbangan internasional bandara Ngurah Rai, kedua di penerbangan antar bangsa bandara LCC (khusus Air-Asia ternyata) Kuala Lumpur, ketiga di boarding room bandara Changi. Terus terang, hasilnya berurutan ke lebih bersih, lebih wangi, lebih kering. Di Ngurah Rai, meski itu sudah sangat bersih untuk ukuran saya (kita), itu masih lebih becek ketimbang di KL (meski jauh lebih banyak air tapi lebih kering) dan mereka berdua masih lebih berbau WC ketimbang di Changi.

OK. Mana ada sih WC umum yang sebersih WC hotel? Atau adakah WC sekolah yang sebersih WC hotel? Ada.

Urusan toilet ini sensitif buat saya. Meski saya punya pengalaman buang hajat di rerumputan sampai di sungai, saya toh akan merasa sangat nyaman dan jadinya fokus kalau toilet tempat saya menghabiskan sebagian besar hari saya, itu bersih, kering dan (paling tidak) tidak berbau WC. Untuk yang satu ini saya ternyata beruntung. Lab baru saya yang berada di gedung baru sekolah saya ternyata sangat nyaman. Rupanya sekolah saya sangat memanjakan mahasiswa dan dosennya jadi semua toiletnya bersih, kering dan tak ada bau. Sebagai pembukaan, semua toilet (yang berisi WC, urinoir dan washtafel) dioperasikan dengan sensor. Nyaris tak ada kontak dengan tangan kecuali untuk tombol flush dan washlet di WC. Ternyata untuk urusan WC, sekolah kami memakai teknologi WC terbaru yang menjamin tak ada pemborosan air (meski bukan berarti harus hanya pakai toilet paper), tak ada ‘sisa’ buangan dan harus tak ada bau. Tekanan dan hangatnya air-pun bisa diatur. Wah, desainer WC sekolah kami ternyata sudah memikirkan sisi ergonomisnya hingga orang macam saya bisa berlama-lama duduk sambil baca paperback novel. Saya rasa Hyatt- Bandung tak senyaman ini WC-nya. Betul.

Setelah buang hajat (besar, kecil, padat, cair) saya dimanjakan dengan washtafel yang dioperasikan juga dengan sensor. Jadi cukup dekatkan tangan ke mulut keran, air dan busa sabun akan keluar secukupnya. Ini menuntaskan masalah kalau pakai sabun cair dimana sisa sabunnya hampir selalu mengotori washtafel. Lalu, tangan yang basah bagaimana mengeringkannya?  toilet kami menggunakan dryer dengan ultraviolet hingga saya tersugesti – kedua tangan saya bebas kuman setelah keluar dari toilet. Hmm, di kehidupan saya sebelumnya, ketika saya masih mahasiswa- saya pernah berjumpa dengan WC sekolah yang paling jorok yang pernah saya lihat. Dan sebelumnya lagi, ketika saya di SMP – saya pernah dihukum untuk membersihkan WC sekolah saya. Wah jangan tanya bagaimana kotor dan baunya. Kala itu.

Jadinya saya bisa tahu dan merasakan masing-masing desain dan konstruksi WC.

Kembali ke desain WC modern. Kerewelan sebagian besar orang Jepang terhadap higienitas rupanya berbuah pada desain dan teknologi WC yang boleh dibilang cutting-edge. Dan kalau dibilang bersih, bukan hanya bersih visual  tapi bersih higienis dan mungkin kalau dites secara empirik memang tak ada bakteri (yang bisa bikin bau dan lain-lain). Saya pernah dapat kuliah khusus desain dan engineering tentang WC dari CEO-nya Toto.Inc dan memang dengan harga per-unit WC yang lebih mahal dari sebuah Tata-Nano, klien tak ragu lagi dengan urusan higienitas.

Tapi WC sekolah saya di Indonesia sudah sangat baik dan sangat bersih kok, kalau saya nggak salah ingat. Bersih di level fungsional tak musti mahal, cuma kalau yang bertugas membersihkan tak punya habit bersih, ya susah. Walaupun sudah dengan prinsipnya A’a Gym: dari yang kecil, dari diri sendiri, dari sekarang.

Advertisements

About this entry