The Black Swan

The Black Swan

The Black Swan

Konsep dari buku ini bisa terbaca oleh saya, dan sepertinya tinggal menunggu waktu, pikir saya, sampai ada orang yang menulis tentang – negasi dari– segala sesuatu yang berbau perencanaan, perkiraan dan trend. Nampaknya kini para pemikir mulai melirik ke segala sesuatu yang tak deterministik, tak rasional, tak terdistribusi normal. Saya salah duga, dulu guru statistik saya pernah bilang bahwa apapun dalam statistik dapat tergambarkan dalam distribusi normal – ternyata banyak juga yang tidak begitu. Impulsif, tak bisa diprediksi namun impact-nya luar biasa.  Namun kata Dr.Taleb ini, kita cenderung untuk berupaya mengerti akan segala sesuatu yang tak bisa dimengerti.

Banyak hal di dunia ini yang tak se-deterministik yang bisa diperkirakan. Orang kampung saya bilang: manusia berusaha, Tuhan menentukan. Orang bisa merencanakan dengan segenap ilmu dan rasionalitas, namun secara acak akan selalu muncul hal-hal yang tak diprediksi sebelumnya.

Buku ini setengah bicara mengenai filsafat, setengah ekonomi. Saya tak begitu faham mengenai ekonomi, namun saya bisa lihat kaitan antara the black swan ini dengan the long tail-nya Chris Anderson atau dengan teori dalam buku chaos ( yang saya lupa siapa pengarangnya). Dr. Taleb juga rupanya mengkritisi para ekonom yang terlalu memuja statistik dan angka serta prediksi-prediksi yang selalu melibatkan variabel-variabel yang terlihat (mungkin di buku satunya lagi: Fooled by Numbers, dia cerita banyak). Heh, ternyata saya baru tahu, ada lho kelompok anti distribusi normal..hehe, mau tuh join.

Walaupun bicara banyak mengenai fenomena, layak dicermati bahwa perkembangan kompleksnya masalah-masalah di dunia ini tak bisa lagi didekati menggunakan ilmu pasti semata, karena bisa jadi ada lebih banyak variabel tak terlihat yang belum dapat kita pahami dan karenanya sekarang menjadi kurang exact – bagi beberapa orang. Wah, lama-lama bisa tidak ilmu pasti nyambung dengan ilmu supra natural? kan banyak juga tuh, black swan-nya?

Dengan tak mengurangi rasa hormat buat effort bagi penerjemahan buku ini, saya rasa ada beberapa bagian yang kurang pas bila dialihbahasakan, mungkin malah versi English-nya lebih nyuss. Bener kata Emha, bahasa itu bukan hanya baik dan benar tapi juga harus enak.

Advertisements

About this entry