Riuhnya Indonesiaku

Asyik sekali Indonesia hari-hari ini. Seingat saya dulu Gunawan Muhammad pernah bilang kalau mau lihat Indonesia, lihat saja perempatan jalannya. Barangkali kita bisa lihat semua tentang Indonesia: kemajuan ekonominya , kalau kita lirik kanan dan kebetulan ada mobil baru yang disopiri oleh anak muda sambil bicara sendiri lewat handsfree-nya. Infra struktur , kalau kita lirik kiri dan kebetulan jalur pedestrian dikorbankan untuk parkir on-street. Kependudukan, kemiskinan, teknologi, pendidikan dan lain-lain semuanya terwakilkan pada satu perempatan jalan. Memang sih, sekarang sebagian sudah canggih euy, traffic light (apa Indonesia-nya?)-nya sudah ada timer-nya, yang walaupun kadang saya amati betul, ternyata kok tidak real-time ya?. Mudahan saya yang keliru.

Terus, hari-hari ini banyak sekali (beneran, banyak banget) poster-poster caleg (calon anggota legislatif atau parlemen) yang terpampang hampir disepanjang kota yang saya lewati dari Denpasar sampai Surabaya. Ada penulis di sebuah koran lokal yang jeli mengatakan bahwa, apakah para caleg itu sadar mereka tak peduli pada isu-isu lingkungan? Lha, memangnya, kalau setelah kampanye, apakah partainya yang akan membersihkan poster-poster itu? Misalnya, apakah salah satu dari mereka ada yang berani klaim kalau poster dirinya dibuat dari recycle fabric dan green ink? not in million years.

Sudahlah, setiap tulisan yang saya temui selalu isinya menghujat para caleg-caleg itu dan herannya kok masih banyak aja yang ingin jadi caleg. Jadi para caleg itu muncul dari dunia sebelah mana? Ini seperti humor Hitler dan sopirnya. Sopirnya Hitler mengeluh kalau tuannya selalu bilang hanya 2% penduduk Jerman yang tak suka padanya, tapi kenyataannya kata sopirnya ini, dia selalu ketemu yang dua persen. Jadi yang 98% bukan termasuk  sampelnya Hitler kali.

Lalu saya-pun, walaupun geli-geli juga melihat setiap poster yang sangat variatif itu, merasa tak punya wewenang kali buat mengomentari desain grafis dan apa ya, namanya: saya tak punya ilmunya: brand imaging. Ada tulisan di koran lokal-lagi-lagi- yang menyebut desainer para caleg itu sangat tidak kreatif, monoton dan tak ada inovasi sama sekali. Lihat saja iklan media cetak, ada yang sangat sederhana tapi sangat kreatif. Kenapa yang ini tidak? Ah, mungkin banyak yang last minute design (itu juga kalau desainernya dibayar, kita thea– merasa desain itu bukan ilmu). Kalau dari sononya sang caleg tak punya kharisma, ya..susah mau naikkan image dia.

Tapi salut buat para caleg yang sudah berkeringat dingin untuk hajatan ini. Susah lho, grogi kali mengemban beban dan tanggung jawab super berat kalau terpilih. Memangnya mudah meyakinkan teman-teman (itupun kalau punya teman) di parlemen agar satu suara dengan kita? Maka dari itu saya salut dan tak ingin jadi caleg. Saya tak bisa bekerjasama dengan orang yang susah (apalagi, maaf – belegug tapi keukeuh dan merasa harus keukeuh untuk dianggap kritis) dan harus pasang topeng agar tetap diterima di komunitas parlemen. Makanya saya berkutit di dunia desain dan virtual. Sendirian dan maya.

Semoga nanti saya bisa kontribusi ke masyarakat seperti halnya para anggota parlemen itu.

Advertisements

About this entry