Slumdog Millionaire (2008)

Slumdog Millionaire

Slumdog Millionaire

Saya tak habis pikir, para pengagum film Hollywood (dan anak muda, dan para geek) amat mengagung-agungkan The Dark Knight atau malah Wall-E sebagai film yang luar biasa, inspiring, awesome dan lain sebagainya. Malah ada yang usil memasukkan mereka sebagai salah satu kandidat  The Best Picture.
By the hammer of Thor.WTF?
Hollywood mungkin tak ingin ada film luar biasa di belahan dunia lain yang menyita hampir seluruh penghargaan di festival-festival selain Oscar tahun ini (yang mana belum dimulai).
Membandingkan TDK dan Slumdog mah,(tanpa mengecilkan TDK-yang memang film superhero terbaik) tidak pas karena Slumdog punya jiwa bagaimana film bisa merupakan media inspiratif dan reflektif dan juga edukatif. Sedangkan TDK punya jiwa film sebagai media murni hiburan. Tinggal, kalau ada kategori terbaik dari yang terbaik, kita (tepatnya- juri) lebih condong yang mana.
Kalau saya, hiburan atau inspiratif, jelas Slumdog unggul.
Ini adalah film India terbaik yang pernah saya tonton. Period.
Ada semangat yang luar biasa di sana, dunia anak-anak, potret kemiskinan dan kriminal, serta romantika cinta dalam bentuknya yang paling murni.
Selain cerita dan akting semua pemain (bahkan polisi India-nya pun) yang natural dan ekspresif, saya menyukai bagaimana sudut-sudut pengambilan gambar dan warna-warna yang luar biasa. Mumbai jadi super kumuh sekaligus seksi di film ini. Terkadang kita bisa terbahak-bahak, lalu meneteskan air mata ketika ada adegan yang miris dan dramatis yang disuguhkan oleh anak-anak dengan wajah tanpa dosa.
Film ini membuat saya menjadi manusia lagi, men-defragment hati saya untuk semangat dan percaya pada takdir.
Tak ada yang kebetulan atau keberuntungan, semua itu sudah ditulis. It is all already written. It is destiny, kata Jamal.
Kenapa orang jadi mempertanyakan ketika semua jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu sudah menempel kuat di kepala akibat kerasnya pengalaman dan kejamnya hidup?
Akhir film ini – klimaknya, juga luar biasa. Bukan karena pada yang sudah bisa ditebak, tapi juga arti lain sebuah kemenangan. God is great, kata Salim, pada akhirnya. Kalimat itu menjadi penuh dengan makna di saat itu.
Di situ saya teriak. Nooooo!
Kita tak kalah sebenarnya. Dulu ada Daun di Atas Bantal, sekarang ada Laskar Pelangi dan banyak lagi kecuali yang memang sengaja dibikin tanpa selera.
Mungkin suatu saat nanti kita akan bisa bikin film yang boleh jadi bikin dunia menoleh semua ke Indonesia.
This nation needs better class of director and producer.
Saya yakin Garin Nugroho pasti sama kelas dengan Danny Boyle, yang dulunya jago bikin film zombie itu.

Advertisements

About this entry