Happy Go Lucky

Happy Go Lucky

Happy Go Lucky

Jikalau dunia film adalah padang pasir, maka film ini bisa jadi salah satu oase-nya. Dan jikalau pandangan atas kemanusiaan di saat sekarang ini ibarat padang pasir, maka film ini juga salah satu oase-nya. Saya dulu menyukai film La Vita et Bella dan sampai melekat di kepala saya salah satu scene dari film itu ketika sang ayah berpura-pura sedang berakting ketika diseret tentara SS hanya agar sang anak tak pernah tahu dunia yang sebenarnya. Di film ini tidak ada perang, tak ada spionase, tak ada zombie. Film yang memotret kehidupan biasa saja dengan masalah-masalah biasa dan remeh temeh. Tapi yang tak remeh temeh justru persepsi sang tokoh ini terhadap hidupnya, terhadap sekelilingnya.

Saya ingin sekali menjadi si Popie ini. Selalu positif dan memulai hari dengan berkata pada diri sendiri:” I am exciting!”. Entah apapun yang hidup suguhkan buat dia, apapun itu, selalu membuat dia senang. Jadilah dia aneh sendiri di lingkungan yang selalu curiga, selalu tak percaya pada yang namanya “too good too be true” itu (seperti di Seven Pounds) atau malah selalu menganggap hidup adalah medan perang dimana kalau kita tak kuat (dan tak serius) maka kita akan kalah (seperti katanya Scott, si guru belajar nyetirnya Poppie atau Alice, kakaknya Poppie..atau katanya FPI). Tak bisakah kita hanya nikmati apa yang ada sekarang tanpa harus takut dengan apapun yang esok hari suguhkan? “Just be happy everyday, OK?” kata si Poppy selalu.

Poppie selalu happy karena dia selalu bersyukur atas segala sesuatu yang terjadi. “Bless him whoever he is”, katanya ketika sepeda satu-satunya raib digondol maling. Dan selalu melihat segala peristiwa sebagai hal yang jenaka. Bayangkan, betapa seriusnya keseleo tulang belakang karena main trampolin (serius, saya ingin coba yang satu ini, kayanya asik), tapi si do’i mah malah nge-godain sang dokter.

Di bagian akhir film ini sepertinya saya dihadapkan bahwa kenyataan tak selalu berpihak pada yang “happily forever“. Bahwa yang happy terkadang harus juga merasa bertanggung jawab atas ketidak- happy-an yang terjadi di sekelilingnya. “You have to stop being nice to everybody Poppie“, “Why?“, “I don’t know. Just don’t do it too often“. Seakan yang mencoba mengambil apapun yang positif itu juga harus ikut arus. Dunia memang aneh. Tepatnya, orang-orang cenderung menjadi aneh. Jadinya, Poppie juga merasa harus mikir, apa yang salah? kenapa dia merasa harus (ber)salah? Mungkin benar, hidup harus serius. Ah nggak juga, buktinya dia lucky, bertemu dengan seseorang yang melihat dia sebagai dia. Bukan orang lain yang menjadi dia.

Ah, sayangnya film ini terlalu singkat. Saya malah empati sama si Scott-the school driver man.

Advertisements

About this entry