Lullaby

Suatu saat ada teman saya yang berkata ke saya: Eh, saya tak pernah mimpi bisa sekolah di sini. Alhamdulillah. Dulu saya pernah kecewa sekali dengan rencana karir saya yang tak berjalan sebagai mana yang saya harapkan. Untung saya tak frustrasi jadi bisa ada kesempatan sekolah di sini. Akhirnya kita cerita soal harapan dan kesempatan (jadi kaya lirik lagu). Dari semua yang banyak bisa dipetik dari hidup saya cerita ada dua hal yang penting. Pertama, kayanya semua juga tahu bahwa in life, things are not always as we expected that it would be. Kita hanya jalanin saja. Terkadang memang ada masa di mana kekecewaan sedemikian dasyatnya hingga seolah menutup semua kemungkinan yang hidup tawarkan buat kita. Tapi kan, fungsi di atas itu rekursif juga, jadi kalau begitu, kenapa kita tak mengharap setelah kekecewaan itu ada kesempatan yang lain. Life is full of surprises, isn’t it? Asalkan menurut saya modalnya harus selalu siap(as in boys scout’s oath: always be prepared) dan ini susah, percaya deh. Kedua, jangan pernah abaikan kesempatan yang hidup berikan kepada kita. Apapun bentuknya, apapun ongkosnya. Karena siapa bisa mengira bahwa kesempatan yang sama akan datang lagi nanti? Saya disela berdoa dan berterimakasih atas semua yang sudah diberikan ke saya, terkadang memohon agar diberikan sense untuk lebih tajam dalam melihat kesempatan. Karena ternyata setelah saya rasa-rasa, apa yang terjadi pada saya sejauh ini hanya merupakan akibat dari apa yang saya ambil. Ironinya, bukannya semua ini Dia yang rencanakan? Dia tahu dong akan ada state B setelah state A atas pilihan saya itu. Pastinya Dia ingin saya ambil sesuatu dari state B untuk modal ke state C (yang tak akan bisa dituju langsung dari state A). Masalahnya saya tahu tidak yang diambil itu apa?.

Saya juga berusaha untuk selalu berterimakasih pada-Nya atas apa yang terjadi pada saya. Karena dengan itu saya punya ketahanan – endurance – oshin (kata orang Jepang mah). Orang bisa bicara apa saja tentang ketabahan, ikhlas dan lain-lain tapi kalau tak ada endurance dengan modal penghargaan pada diri sendiri, it will crack under pressure. Dan karena hidup tak seperti durasi film, yang mana kita bisa prediksi kagak mungkin lebih dari dua jam (kecuali trilogi Lord of The Rings), endurance ini sama susahnya dengan yang pertama. Karena durasinya variabel. Kalau durasinya konstan macam ospek, wah konsep sabar dan ikhlas tak menemukan tantangan berarti dan prematur. Variabel ini yang membuat konsep-konsep sabar, ikhlas dan lain-lain bertansformasi menjadi yang orang sering bilang…nikmati saja hidup ini.

Ah. life, can live with it, can’t live without it.

Advertisements

About this entry