The Girl With The Dragon Tattoo – Stieg Larsson

The Girl With The Dragon Tattoo

The Girl With The Dragon Tattoo

Sewaktu sudah capek dengan jejalan buku-buku fiksi yang baru di Kinokuniya. Saya sudah hampir pasti pulang tanpa sebuah buku (fiksi-kriminal-yang harus pasti sangat menarik). Lalu saya lihat buku ini. Kesan pertama, judulnya menarik (walaupun nanti saya jadi tahu bahwa justru judulnya yang misleading) dan di belakang cover ada testimonial dari Michael Connely – semakin meyakinkan saya bahwa ini buku cerita kriminal. Yang menarik lagi adalah bahwa buku ini aslinya dalam bahasa Swedia, jadi pasti beda dengan cerita fiksi kriminal ‘ala Amerika. Yang lebih menarik lagi adalah ada semacam aura ‘mistis’ atau (I am not really sure if this is a kind of hunch) dengan sang (saya kira) tokoh utama (a anorexic-asocial – hacker girl with a dragon tattoo on her shoulder’s blade? wierd.)

Yang jelas, buku ini tebal sekali (645 hal) dan ceritanya, wow. Saya berpikir ini juga salah satu buku yang boleh jadi sangat bagus dijadikan film. Gabungan antara Fargo, The Firm, Seven, Blue Velvet dan..em, Texas Chainshaw Massacre. Karena tema cerita di buku ini ada dua dan saling berkait. Yang satu adalah masalah bisnis dan kejahatan ekonomi dan urusan perusahaan dengan segala macam taktik busuknya (ini seperti kisah di buku-bukunya John Grisham). Yang satu lagi adalah kisah murni kriminal dengan warna yang sama sekali baru (sebagian seperti salah satu kisah kriminal masa lampau di Agatha Christie, sebagian seperti kisah John Doe di Seven). Terus terang saja, saya tak terlalu tertarik dengan tema yang pertama, dan itu memakan hampir satu pertiga buku ini. Namun justru tokoh kita, sang weird girl berperan di dua kisah yang luar biasa anehnya.

Tokoh utamanya sebenarnya adalah seorang jurnalis – dan sang.. how should I say, not a girl but not yet a woman. Berdua mereka memecahkan masalah sebuah keluarga besar yang juga  pemilik perusahaan terbesar di Swedia. Kisah kriminalnya sendiri begitu terpusat pada silsilah keluarga ini, yang menurut saya, sangat pas jika digambarkan sebagai gabungan antara kisah aib sebuah keluarga, aura haru dan sedih yang begitu terasa ketika satu demi satu fakta masa lalu terbeberkan – ditambah dengan kisah paling sadis yang pernah terjadi dalam suatu keluarga. Salah satu reviewer menggambarkan kisah ini merupakan perjalanan dari sebuah keturunan psychopath dengan sejarah paling kelam yang pernah diceritakan. Saya pikir seluruh kisah pembunuhan di cerita Agatha Christie tak ada yang punya latar belakang kisah yang sangat kompleks seperti di sini.

Tapi saya pun harus sedikit kecewa, karena saya sedikit berharap bahwa Lisbeth Salander, sang gadis dengan tato naga itu, punya semacam kisah hidup yang berkaitan dengan tema utama. Ternyata tidak. Coba kalau tenyata ada, wah kayanya twisted-nya jauh lebih bagus. Dia hanya tokoh yang dihidupkan sebagai pemanis (dan memang karakternya sangat aneh untuk bisa memecahkan masalah ke-detektifan seperti ini). Jadi judulnya tak sesuai dengan isinya. Karena memang judul aslinya, jika diterjemahkan langsung dalam bahasa Inggris menjadi : Man Who Hates Woman. Nah, itu baru pas. Bukan The Dragon Tattoo yang hanya muncul dua paragraf di keseluruhan buku ini.

Satu lagi, pas benar apabila ada yang bilang kisah ini adalah kisah Agatha Christie untuk dewasa. Ada banyak statement tentang keluarga, hubungan pria-wanita, komitmen, norma sosial, yang akan membuat pembaca di bawah 25 tahun berpikir-pikir – gundah-.

“What is friendship, Salander? It’s when it has respect and trust”.

Advertisements

About this entry