Let The Right One In

Let The Right One In

Let The Right One In

Saya mengapresiasi film in sebagai film horror ABG yang paling serius yang pernah saya tonton. Malah mungkin bukan konsumsi ABG ( dibawah 17 tahun). Habisnya ada beberapa adegan yang hampir mirip dengan Kirsten Dunst di Interview With The Vampire tapi dalam konteks jauh lebih natural dan wajar – dan karenanya serasa lebih membuat bergidik. Tuh kan, film horror tidak harus selalu gelap, dengan teriakan-teriakan histeris dan wajah-wajah seram. Satu lagi resep film yang bisa menarik dengan amat minim properti adalah ide cerita.

Film ini minim sekali perangkat efek. Hanya ada satu, dua efek yang di-close-up. Selebihnya, film ini murni menyajikan hiburan dengan scne-scene bisu dan lambat. Namun justru itu lebih bisa menggambarkan tema film ini, kali. Seperti halnya film-film bukan Hollywood, tidak ada yang “teriak “di sini. Jauhlah kalau dibandingkan dengan, misalnya 30 Days of Nights. Kayanya ini jauh lebih berkesan.Lagipula, semua kekerasan di sini tidak secara vulgar dimunculkan macam Mirror atau sebangsanya. Hey, belum pernah ada film vampire yang nyaris tanpa taring toh? (atau tanpa sang vampire menyeringai šŸ™‚

Tapi musti diingat juga, ini bukan film horror `horror`. Kayanya ini masuk kategori semacam The Others-nya Amenabar namun lebih pop. Dulu stereotipe kalau konon sang vampire nggak bisa masuk rumah kalau ngga diundang sang empunya rumah divisualisasikan macam-macam, malah sampai jadi asap segala. Tapi di sini, sebenernya bisa aja sih masuk rumah, tapi yah..seperti kalau kita lagi tenggelam. Ceritanya seperti itu.

Tapi salut, bisa buat film cukup bagus dengan semua yang serba ngepas. Kayanya ita bisa banget deh buat yang seperti ini. Masa sih harus berbalut kain kafan terus?

Advertisements

About this entry