We could be hero, just one day

What happen in Hollywood these days?

Saya sayangnya tidak pernah kebagian untuk mengenal lebih jauh jagoan-jagoan komik yang saat ini dan nanti sepertinya akan memenuhi layar-layar bioskop (dan situs torrent dan rapidshare). Dulu saya hanya tahu sebatas Superman, Spiderman, Batman – dan hanya tahu saja, tak pernah tahu kalau jagat comic heroes ternyata jauh lebih luas. Ada DC, ada Marvel, Dark Horses dan lain-lain. Pengetahuan saya tentang jagoan komik barat hanya sebatas ketika numpang baca di toko buku sebelah sekolah dulu (malah kayanya dulu saya pernah nyolong kali, satu eksemplar..lupa. Maaf). Baru setelah kuliah saya sempet (numpang lagi) baca komik kepunyaan seorang teman. Ternyata Superman itu bisa juga kalah, ternyata Spiderman punya musuh yang jaub lebih cool, Venom, ternyata ada namanya X-men, ternyata ada jagoan yang paling cool yang pernah saya baca: Green Lantern. Wah, asyik juga dunia komik ini, tak salah orang barat tergila-gila hidup di dunia dimana kita butuh superhero yang tak pernah salah..eh..kalah. Di tahun-tahun itu saya hanya bisa bayangkan aksi-aksi mereka lewat ilustrasi yang super yahud dengan sedikit dialog itu.

Ternyata tak sampai dua puluh tahun kemudian khayalan saya kesampaian. Seabrek film adaptasi komik satu-satu muncul. Ada yang bagus, ada yang..yah..ok lah, ada juga yang kurang berkenan. Sebenarnya sudah sejak 80-an kali, ada film Superman atau kalau mau dilebarkan sedikit Star War dan Star Trek (unfortunately, I am not fond of those last two). Tapi, sebagai penyuka visualisasi, film-film itu belum memuaskan fantasi tergila saya akan comic heroes. Awalnya memang dari X-Men, yang saya pikir mulai membuat saya bisa bilang, wah film komik nggak harus untuk anak kecil doang. Tentu saja semua ini sepertinya tak lepas dari teknik dan teknologi visualisasi yang dituntut untuk lebih maju dari yang lain. Era ini mulai banyak film adaptasi komik dengan berbagai gaya visualisasi dengan puncaknya saya rasa di 300.

Lalu adalah The Dark Knight dan Ironman. The Dark Knight membuat standar film adaptasi komik jadi lebih tinggi lagi. Tak sekedar lebih dark, atau lebih mature, tapi juga lebih jero dari segi cerita, perwatakan dan konflik. Mungkin kalau Mr. Ledger tidak menyerah, dia bisa dapatkan Oscar pertamanya (siapa tahu?). Ironman membuat Transformer jadi sedikit ketinggalan jaman. Computer Graphic (CG) tak lagi dibuat untuk menyuguhkan scene-scene yang fantastik dan believeable, tapi juga bisa convincing dengan tetap tunduk pada hukum-hukum fisika. Saya tak pernah percaya sebelumnya kalau suite Tony Stark seluruhnya adalah CG. Dengan ini semua saya akan bosan kalau film-film komik di masa datang akan seperti Fantastic Four atau Sipderman 3. Tak cukup hanya believeable.

Setelah dua itu di 2008 tampaknya Hollywood sedang keranjingan untuk menyiapkan seluruh tokoh komik ke layar bioskop. Ini bisa bagus, bisa juga buruk. Mungkin saja Hollywood melihat pasar genre ini makin lebar, dan pasar genre lain atau inspirasi lain sedang tidak begitu hangat lagi (perang, horror Jepang, misalnya). Jadi ingat ada masa dimana Hollywood gemar membuat adaptasi horror Jepang. Tapi kalau melihat standar sinematografi dan budget yang terus naik, kayanya saya bisa berharap tuh sama The Avengers, Ironman2, Thor, Green Lantern, G.I Joe dan lain-lain. Paling tidak kita nggak melihat lagi film dimana selalu saja tokoh antagonis itu orang Arab. Setidaknya kalau memang film itu sangat khayal, yah, khayalannya harus pholl, tidak seolah menggambarkan sang polisi dunia yang seolah super canggih sembari memang hanya bisa hebat di layar kaca tapi kalah terus di realita.

Atau, saya sedang membayangkan bahwa an American dream itu memang hanya sebatas dunia Hollywood?

(hati-hati..semua ini adalah konspirasi global untuk..world domination..:-)

Advertisements

About this entry