Standing on the shoulders of the giant

Opportunity is in the eye of the beholder

Kadang ada teman yang beruntung, sekolah di tempat para pemenang Nobel (bukan Nobel perdamaian), atau bahkan punya pembimbing bekas pemenang Nobel. Atau berkesempatan riset di tempat orang-orang yang punya berjubel paten di cv-nya. Atau bahkan berkesempatan sekolah di tempat nomor satu di dunia atau di world class university (ini istilah pertinggi sekolah saya). Wow, bagaimana rasanya ya, berada di kalangan selebritis macam itu. Paling tidak kita pastilah kebagian nama di jurnal nantinya.

Sekolah saya kebetulan bukanlah yang nomor wahid di Jepang sini, walaupun untuk urusan teknik, banyak alumni sekolah saya yang menjadi presiden di perusahaan-perusahaan teknik di Jepang yang “kelas dunia”(ini istilah petinggi sekolah saya). Karena orientasinya engineering dan baru membuka kelas internasional sekitar 15 tahun lalu, makanya sekolah saya belumlah sebersinar sekolah-sekolah tetangga yang lebih dulu go internasional. Tak ada Nobel laurette atau selebritis akademis lainnya. Ada satu-dua professor (muda) yang sangat distinguished dan disegani di Jepang, tapi karena di Jepang semua professor itu distinguised (kayanya), jadi persaingan ke-distinguised-sannya sangat ketat.

Salah satu yang baru saja beri kuliah ke saya ternyata salah seorang inventor superkonduktor. Saya tak mengerti apapun tentang superkonduktor, tapi dia menjelaskan filosofi bagaimana penelitian itu dilakukan sampai menyebarluaskan temuannya itu di berbagai belahan dunia. Dari mulai tak ada yang percaya dengan temuannya (baca: westerner) hingga akhirnya diapresiasi oleh jurnal paling prestisius di bidangnya dan sekarang tengah menjajagi kerjasama dengan industri karena Jepang akan membangun jaringan kereta supercepat Maglev (Magnetic Levitation) yang akan menggunakan material superkonduktor ini.

Lesson learned: kayanya penelitian yang bener itu memang diapresiasi oleh jurnal ternama dulu kemudian industri, dan bukan oleh pemerintah terus ke media massa.

Ternyata saya bertemu dengan salah satu Giant di dunia. Masih muda, tidak botak, tidak berkacamata.

Lain hari, ternyata salah satu pembimbing saya ternyata kolega dari beberapa arsitek dan teoris “kelas dunia” (ini istilah petinggi sekolah saya) sebut saja Rem Koolhaas, Winie Maas, Jacques Herzog, (dan tentu saja teman dekat dari beberapa arsitek selebritis Jepang macam Toyo Ito, Arata Izosaki, dan lainnya) dan beberapa kali diundang untuk memberi kuliah tamu di Harvard, Berlage Institute dan lain-lain. Buku karyanya juga sudah banyak diterbitkan.

Wah, bersyukur sekali saya, ini juga salah satu Giant di dunia.

Lalu, apa untungnya buat saya? Seringkali saya menerapkan model pedagogi macam ketika Adipati Karna berlatih panah. Tak ada kesempatan mengenyam pendidikan dari sang guru Bisma, ia belajar sendiri sambil membayangkan seperti apa diajar oleh sang guru itu. Akhirnya, malah lebih baik dari selebritis Arjuna. Katanya resepnya adalah iri.

Tapi jurus lain adalah seperti kata Newton, bahwa ia hanya bisa melihat jauh ke depan hanya karena bisa berdiri di atas pundak sang raksasa. Kita semua tahu induksi itu penting di riset. Kita bisa jadi hebat kalau dikelilingi oleh orang-orang hebat.

Yang terakhir yang saya masih selalu percaya adalah bahwa yang penting itu bukan gurunya, tapi gimana bibitnya (yang ini terkadang masih menjadi excuse dari petinggi sekolah saya, meh).

Advertisements

About this entry