Masa anak-anak (bagian 2)

Kebetulan saya dapat komen dari sahabat saya dan saya jadi ingat tagline salah satu film yang saya tunggu, Curious Case of Benjamin Button. Tag-nya bagus: “Life can only be understood backwards but it must be lived forward.” Saya jadi menerawang lagi, karena sahabat saya itu juga mengingatkan saya tentang petualangan-petualangan yang pernah kami-kami alami. Yah, pengalaman itu harus SUDAH terjadi, baru kita akan bisa melihatnya dengan pemahaman yang berbeda. “Because it`s in the past” kata Phoebe. Tapi seberapa lama `past` itu adalah `past`? Serial Friends yang sudah ratusan kali saya putar ulang mungkin sudah jadi klasik dan tidak lucu lagi untuk mileu anak muda yang lahir di awal 90-an.

Hei, tiba-tiba saya ingat, saya sudah tua. (Damn you Japanese, I told you I am over thirty, not twenty five).

Jalan hidup tak ada yang tahu. Demikian pula saya selalu berpikir dulu bahwa saya akan terus hidup di sebuah kota kecil yang tak punya bioskop lagi – sekarang. Dulu saya melihat Jawa sudah jauh sekali, apalagi ketika kelas satu SMA, saya belum pernah mendengar nama Institut Teknologi Bandung, apalagi membayangkan akan ke luar negeri – apalagi sekolah sampai tinggi.

Sahabat saya itu juga mengingatkan saya pada hal yang akan selalu saya kenang sebagai salah satu yang terbaik yang pernah terjadi dalam hidup saya, bermain dan terus saja main-main. Saya belum tonton Laskar Pelangi, tapi sebelumnya sudah baca bukunya. Kayanya disamping ada pesan kuat perihal semangat belajar (semacam  film Denias, senandung di atas awan – yang juga bagus), juga yang tak kalah pentingnya adalah BERMAIN. Anak-anak (dan awal-awal masa remaja) harus puas bermain karena masa itu tak akan pernah datang lagi. Dan meskipun  ironinya sekarang saya lebih cinta dengan virtual dan artificial life, saya tak menyukai permainan berbau virtual di masa kanak-kanak dan remaja (mungkin juga karena masa itu belum ada X360 dan PS3 dan sebangsanya). Masa anak-anak harus pernah jatuh, pernah berdarah, pernah nangis, pernah marahan, pernah malu dan pernah merasakan semua yang bisa dirasakan indera baik fisik maupun emosi. Kalau di teori kognisi, itu semua akan membantu membangun emotional intelligence yang lebih baik. Gimana mau bicara tegar kalau masa kecilnya nggak pernah jatuh dari sepeda? atau bicara militansi ketika tak pernah tahu rasanya hampir tertabrak mobil ketika asyik mengejar layang-layang?

Anak-anak yang nakal (bangor, kata Sundanya bukan baong) bagi saya lebih baik dari yang baik-baik. Setidaknya akan ada masanya ketika sang anak bisa menarik diri dan mengambil garis batas antara dunia main-main dan dunia sebenarnya, antara bebas seenaknya dan bertanggung jawab. Itulah kenapa ada yang namanya ibu, bapak.

Bagaimana saya akan membentuk anak saya? Apa yang belum sempurna di masa anak-anak saya? Mungkin kalau anak perempuan mainannya beda, tapi harus tahu yang namanya main tali, congklak, masak-masakan (kalau yang ini Dhana suka sekali). Mungkin yang tak ada di saya adalah jendela ke dunia luar. Ada baiknya Dhana mungkin dikenalkan ke dongeng “kelas dunia”(ini istilah petinggi sekolah saya) macam HC Andersen, Lewis Caroll, Road Dahl, Dr.Seuss, dll. Ada banyak pesan dan pengetahuan di sana. Tapi saya belum mau Dhana jadi terlalu suka baca di umurnya sekarang.

Main aja dulu. Nanti kita akan berpetualang bersama.

Advertisements

About this entry