Yang Tersisa dari TGS08- What’s Next?

Data terakhir, sampai kemarin tercatat lebih dari 200 ribu orang mengunjungi TGS (Tokyo Game Show) di Chiba. Beberapa media mengatakan tahun ini lebih banyak pengunjung dibanding tahun lalu, dan menurut saya justru lebih sedikit peserta (developer) yang pamer.Tak bisa dipungkiri bahwa ajang ini memang bagian dari budaya orang Jepang yang gemar game dan gemar berkhayal. Dan dari kegemaran tersebut, Jepang menjadi salah satu pusat industri software game (design and developer) disamping hardware (Playstation, Nintendo). Industri game sendiri juga muara dari berbagai teknologi baik hardware maupun software yang bernilai milyaran dollar (rasanya dulu saya pernah sedikit menyinggung ini).

Industri game ini mungkin yang luput dari pengamatan Chris Anderson (Wired) waktu menulis The Long Tail. Saya pikir di dalam game, kita masih berkutat pada the short head dan bukannya the long tail karena salah satunya para pelaku di industri ini masih bisa dihitung dan kalaupun banyak muncul production house (niche) ujung-ujungnya game sebagai produk harus bisa masuk dalam kategori PC, konsol, web, atau mobile. Tidak semua orang bisa bikin game yang bagus (cerita, visualisasi, interaksi) dan semua game (masih) harus tunduk pada aturan graphic processor : min 20fps.

Seperti halnya arsitektur (yah..semua harus ada arsitektur-nya), game adalah melting pot dari berbagai disiplin.

Jika tak ada aral melintang pada perkembangan teknologi processor(untuk kecepatan proses), teknologi nano (untuk penyimpanan data) dan teknologi internet (untuk kolaborasi) maka dari sisi media hiburan dan edukasi (iya dong, nge-game juga belajar), game di masa datang bisa jadi budaya mainstream. Jangan dilihat game hanya sekedar sebagai media alter-ego buat kejar-kejaran (Need for Speed francise, Gran Turismo francise), berbuat seenaknya (GTA francise), menjadi pahlawan (Call of Duty, Prince of Persia) dan masih banyak lagi, namun juga lihatlah juga bagaimana belajar kreatif dengan prinsip-prinsip fisika di Little Big Planet, teori -teori biologi dan ekosistem di S’pore dan Africa dan banyak serious game lainnya.

Saya pikir pula puncak-puncak peradaban teknologi visualisasi akan lahir di industri game, bukan film. Kenapa? Karena di industri game tak ada narasi. Game-game sandbox macam Crysis, Mercenaries, Gear of Wars hanya mempunyai preambule cerita, selebihnya terserah pemain. Ini akan membuat aspek lain yang akan membuat game ini menjadi menarik. Dan itu adalah adalah: immersion. Sejauh mana game bisa membuat pemain ‘masuk’ ke dalam dunia game dan beriteraksi baik dengan dunia game (90’s-2000’s) ataupun kolaborasi lewat internet/LAN(2000’s-). Yang seperti ini tentu saja memaksa para developer untuk menciptakan sesuatu yang unik di dalam konteks visualisasi dan/atau interaksi. Unik bisa saja lebih canggih macam segala macam teknik rendering tingkat tinggi di PS3/360, namun juga bisa jadi sesuatu yang memberi sentuhan seni manusiawi yang belum pernah ada sebelumnya (Prince of Persia, Mirror Edge, S’pore, Little Big Planet). Dilihat dari sisi positifnya saja, industri kreatif ini bakal ‘memaksa’ Intel dan AMD (sudah bubar-kah?) untuk terus menciptakan processor yang selalu lebih cepat. Intel bahkan berencana membuat processor yang bisa menjalankan real time ray-tracing shadow untuk game generasi mendatang. Wow.

To be honest, sedikit tulisan ini bukan untuk konsumsi serius. Saya mah hanya mumbling karena overwhelmed dengan semua kondisi yang sepertinya jauh dari realita apalagi jika memahami saya sebagai orang biasa di Indonesia. Hiks..hiks.Saya pikir industri kreatif di Indonesia akan mulai tumbuh (thanks, film), saya pikir Indonesia punya banyak sekali talenta kreatif. Tapi..tunggu dulu, ah..sudahlah..kayanya untuk yang beginian musti antri di barisan paling belakang antrian prioritas pembangunan dan pengembangan sumber daya manusia.

Yap. saya setuju, kita butuh banyak insinyur pertanian, perikanan, dokter dan guru.

Advertisements

About this entry