The Laws of Simplicity – John Maeda

Laws of Simplicity

Laws of Simplicity

Begini paradoksnya: Teknologi membuat segala sesuatu menjadi lebih mudah sekaligus membuat yang mudah menjadi tampak kompleks. Dari mulai VCR player hingga kulkas, ada masa dimana kecanggihan sebuah produk dilihat dari banyaknya tombol. Lihat saja remote control televisi. Berapa persen sebenarnya diantara sekian tombol itu yang benar-benar sering dipakai? berapa sering dari daftar bookmark yang kita kunjungi lagi? Dulu kolega saya sempat bilang, kalau produk-produk elektronik low -range biasanya banyak tombolnya, tapi kalau produk mid-high-end misalnya Bose, Denon, Marantz dan sekelasnya, tombolnya sangat sedikit. Kenapa? Kata Maeda, mereka sudah dalam tahap SHE (Shrink, Hide, Embodied). Mereka mengurangi volume yang tak perlu, menyembunyikan yang tak penting namun memperkaya dan mempercerdas seluruh komponen hasil pengecilan dan penyederhanaan tadi. Alhasil walaupun tampaknya humble, tapi harganya jauh lebih tinggi. Lagipula kata dia, humble is a form of simplicity.

Kenapa simplicity? apakah yang simple jadi terus lebih berkualitas? Nggak selalu, ada 10 hukumnya. Karena dasarnya manusia suka yang tak rumit. Teori gestalt menyatakan manusia cenderung untuk melihat sesuatu sebagai entiti utuh. Jadi kalau sebagai entiti saja susah dicerna, bagaimana mau mengoperaskan atau menjalankan sebuah produk? Makanya iPod jadi laku seperti kacang goreng (setidaknya di sini), makanya Ikea jadi laris manis. Dan seterusnya. Tak berarti rumit itu canggih. Itu sudah jadul. Karena yang canggih itu yang diam, yang pity, yang tanpa kosmetik. Seperti di cerita silat, yang paling jago selalu yang cool kan? Sekali lagi, simplicity BUKAN menghilangkan, tapi menambahkan tanpa membuat rumit. Jadi sebenarnya jauh lebih susah konsep simplicity ketimbang..umm..art deco misalnya. Tapi..ah..konsep ini jadi barang dagangan yang sangat bias di dunia arsitektur di tempat saya.

Kalau di ranah elektronik dan produk desain simplicity bisa berarti mempercerdas komponen-komponen pendukungnya, lebih renik, lebih ringan, lebih hemat, lebih (murah). Apa bisa diterapkan di ranah arsitektur? Spektrum konsep ini tak hanya bisa diterapkan hanya sebatas arsitektur sebagai wujud ruang yang punya batas-batas fisik (baca: konsep minimalis-mus malasmikir-mus itu tea) tapi harus dilihat sebagai satu kesatuan produk desain yang punya komponen mulai dari desain ruang itu sendiri, desain material, desain sistem struktur, sistem elektrik, dan lain-lain dan lain-lain pangkat dua. Jadi, masih mau pakai konsep simplicity alias the minimalism?

Buku ini dikarang oleh salah satu professor muda di MIT, seorang desainer grafis muridnya Negroponte. Salah satu saksi orang-orang terkemuka yang mengawinkan antara desain, seni dan komputer. Bukannya dulu Negroponte bilang:

“What I really want is to study where I can learn both art and mathematics. And the only course that can fulfill my desire is architecture. But then I realize, it is not architecture that can blend art and mathematics, it is computer science”

Advertisements

About this entry