Sekali lagi tentang bahasa

Saya termasuk yang agak menyesal karena sejak kecil tak dibiasakan berbahasa daerah tempat saya dibesarkan….atau berbahasa daerah yang mana digunakan oleh seluruh keluarga saya. Dalam contoh pertama, bahasa Bali, contoh kedua bahasa Jawa (Timur). Hasilnya? saya bisa dan mengerti bahasa Bali (Buleleng), bisa dan mengerti bahasa Jawa (Timur) , mengerti bahasa Jawa (Jogja) dan Sunda. Namun saya masih bersyukur, saya amat bisa, fasih dan lancar berbahasa Indonesia karena dari kecil dibiasakan berbahasa Indonesia.

Mengapa menyesal? karena saya jadi kurang kaya secara intelegensia bahasa. Disamping memang intelegensia berbahasa saya kurang baik, walaupun idietic memory-nya baik banget. Saya jadi juga kurang bisa masuk di dalam komunitas-komunitas daerah. Misalnya, apakah saya orang Bali? tidak juga karena bahasa Bali saya adalah Bali pinggiran. Apakah orang Jawa? tidak juga, karena kalau saya bicara berbahasa Jawa, orang Jawa menertawakan saya. Tapi kalau bahasa Indonesia, saya akan bangga sekali menggunakannya, walaupun dalam percakapan berbahasa Inggris, saya akan tetap dan memang terbiasa berwarna Indonesia (Bali, Jawa). Jadi English with Balinese or Javanese flavour – English with Indonesian accent. Mengapa harus malu?

Dampak ini semua adalah, saya kurang setuju dengan segala sesuatu yang menyanjung-nyanjung budaya orang lain (baca: western). Apalagi bahasa. Bagi saya, belajar bahasanya negara maju adalah hanya dalam rangka kita ingin menyerap ilmu dan resep-resep maju dalam budaya mereka untuk digunakan di tanah air saya, bukan menambah dalam wujud inferioritas kita terhadap mereka. Jadi, sejalan dengan proses atau perjuangan itu, tentunya sah saja kalau warna dari budaya saya masuk ke dalam cara kita berbahasa asing. Bangsa Jepang cukup kentara dalam hal ini. Mereka seolah membiarkan kesalahan-kesalahan kecil dalam pengucapan ataupun redaksional jika sudah berkaitan dengan bahasa Inggris (Eigo). Begitu juga orang Italia, Perancis, China (tentu saja, mereka semua negara maju, tidak inferior). Ini bagus buat pelajaran. Bahasa In ggris di sekolah menengah boleh saja, tetapi bahasa Jawa, Bali, Sunda harus menjadi bahasa pergaulan.

Jangan sampai kita-kita lancar dan dianggap ‘keren’ dalam berbahasa asing sembari tetap menjadi bangsa inferior dan sudah lupa bagaimana mengucapkan ‘kulonuwon’, ‘punteun’ atau ‘sing ken-ken‘. Paling keren sih kalau suatu saat ada produk expor yang bertuliskan : digawe ning Yogya, bukan made in Yogya.

Advertisements

About this entry