Next (best) thing

Diablo III

Diablo III

Setelah tenggelam dalam  persiapan-persiapan sidang tesis dan Ph.D proposal, tak ada salahnya saya coba-coba tengok salah satu game favorit saya sejak lama, Diablo. Mungkin setelah sidang-sidang-an nanti, saya akan break sebentar untuk segera cari di Akiba.

Saya tak tahu, kapan game ini akan rilis, tapi pastinya akan jauh lebih bagus dari Diablo dan Diablo II. Saya ingat, game ini dulu ada jauh sebelum Warcraft, Starcraft dan World of Warcraft. Sewaktu saya nonton Lord of The Ring – Two Towers dimana di adegan awal Gandalf dikejar-kejar oleh monster api di perut gunung itu, saya langsung teringat Boss monster di Diablo II. I’d lost, but at least I knew it.

Genre game beginian tak pernah punah. Pertama, it’s graphically craftsmanship. Begitu detil dan convincing setiap game object yang ada di layar. Kostum dan perangkat aksesoris setiap tokohnya begitu didesain dengan amat cermat. Kedua, RPG-action sepertinya lebih real-time ketimbang RPG ala Jepang, dimana betapa canggih dan menarik-pun battle design-nya, kadang kita hanya ingin avatar kita super cool sehingga dapat bikin musuh musnah hanya dengan pandangan mata (charisma value: maximum)..hehe

Ketiga, ini subjektif, cerita dan environment abad pertengahan amat menarik sebagai latar belakang petualangan sang avatar. Tak ada yang lebih menarik ketimbang berperan sebagai witchcraft atau barbarian atau Paladin dengan ciri khas masing-masing. Atau berpetualang ke daerah yang suram, berkabut, mendung melulu dengan auman srigala atau penampakan hantu di sana-sini. Tidak takut karena avatar kita punya personality dan equipments untuk worst case scenarios.

Dan yang lebih penting dari itu semua, nggak bisa mati (beneran).

Advertisements

About this entry