Pray

” I went to see a preacher

to teach me how to pray

he looked at me and smile

and that preacher turned away

he said if you want to tell Him something

you ain’t gotta fold your hands

say it with your heart, you soul and believe it

and I said Amiin.

(Bang a Drum, Chris leDoux-Jon Bon Jovi)

Apa yang tersirat dari penggalan di atas sudah barang tentu benar adanya. Saya pikir saya tak harus memahami agama saya dalam batas ritual semata. Tentu ritual itu penting sebagai sebuah prosesi ke keadaan (state) yang mana kita menginginkan lebih dekat kepada sang pencipta. Namun lihat saja, de-facto-nya lebih banyak saya melihat kita (muslim, Indonesia, Bandung) selalu lebih condong ke ritual dibanding esensi dari ritual itu. Seolah kalau sudah melakukan ritual kita sudah ‘memahami dan mengamalkan’ esensi dari agama kita – agama saya. Ini seperti 36 butir-butir Pancasila yang dengan lantang kita pernah hafalkan namun tak pernah benar-benar kita mengerti sehingga kita bisa lakukan.

Saya tak memasalahkan ritual. I obey it as a humble human being. Saya cuma melihat bias yang makin lama makin lebar antara ritual dan esensi dari Islam. Kadang kita suarakan religiositas kita dengan lantang seolah kita semua adalah guardians of our trully God and thus previledge us the Heaven. Saya pikir kita sering melupakan hati. Kalau kita suarakan ayat-ayat Tuhan dengan lirih dan dengan hati dan dengan keyakinan, bukan dengan lantang, marah dan dendam, mungkin kita semua memang bisa jadi umat yang pantas dicontoh.

Saya pikir dulu Muhammad pastilah sangat humble dan sangat baik hati dan tidak sombong. Bukan tipe idol yang dikultuskan dan ingin dikultuskan. Semua rasul seperti itu. Sangat humanis, sangat menjunjung kemanusiaan. Namun sekarang, banyak idol di agama saya. Sangat susah untuk mencontoh figur yang relatif terpuji karena terlalu banyak hipokritas.

Dalam kondisi kaya gini, saya hanya percaya sama hati dan jiwa saya saja.

Mudah-mudahan channel ini cukup kuat untuk sampai ke Dia.

Advertisements

About this entry