Labyrinth – Kate Mosse

Labyrinth

Labyrinth

Saya selalu tertarik ketika ada hal menyangkut dongeng tentang agama, tentang sejarah dan masa lalu kepercayaan, mulai dari Karen Armstong yang non-fiksi (?) hingga Dan Brown dan James Rollins. Walaupun fiksi, tetap saja enak buat diikuti. In order to life the present, one should understand the past, begitu katanya.

Buku inipun demikian. Tebel banget, hampir 800-an halaman. Tidak seperti Dan Brown yang meledak-ledak di setap akhir bab, buku ini seperti versi R-nya Agatha Christie. Mungkin karena pengarangnya perempuan, jadi sangat detil mengulas aspek psikologi setiap karakternya, detil sekali menggambarkan setting dan setiap aksi hingga saya bisa bayangkan seperti film Passion of the Christ dalam slow-motion. Agaknya pengarang perempuan lebih sensitif ketika menyangkut dan menggambarkan watak dan perilaku, begitu bukan?

Well, buku ini tak melulu tentang Crusader, Holy Grail (apa? bukan, bukan Maria Magdalena-nya Dan Brown) atau tentang pergolakan pada jaman kegelapan di awal abad 12 (The Dark Ages, benar-benar dark karena setiap orang bisa di-accused sebagai heretics dan dibakar hidup-hidup). Buku ini juga tentang loyalitas, tentang devotion terhadap namanya cinta, namanya sumpah dan namanya takdir. Buku ini juga penuh intrik dan aksi-aksi spionase abad 21. Membaca buku ini saya bisa membayangkan apabila nantinya akan dibuat filmnya. Siapa heroine-nya? Alais tentu saja Audey Tautou, karena memang buku ini tentang Prancis. Dan Dr. Alice Tanner? yang jelas bukan Angelina Jolie.

Buku ini bercerita pada dua masa berbeda. Satu masa adalah sekitar abad 12 dan satu masa di tahun 2005. Dan ketika awal membaca buku ini saya yakin antara dua tokoh yang hidup di masa yang bebeda itu, pasti ada hubungannya. Keseluruhan buku ini adalah tentang pencarian terhadap Holy Grail yang menurut konon, telah menjadi pencarian abadi umat manusia jauh sebelum Musa, Isa ,dan Muhammad.  Karena konsekuensi atas kepemilikan Grail itu begitu dapat mengubah dunia (apa sih yang paling didambakan manusia? hidup abadi? atau reinkarnasi as a form of eternal life?), maka apapun dikorbankan.

Kerennya, penceritaan di buku ini tidak linier. Sesekali kita dihadapkan pada masalah Alice, sampai pada satu titik tertentu, kita kembali ke jaman ketika Alais hidup. Somehow, kita dapat merasakan kedua perempuan ini punya karakter yang mirip (ouch.. you know ) dan punya masalah pribadi yang hampir mirip pula. Dan karena sejak awal kita diberi deskripsi yang mendalam tentang sang tokoh utama, Alais, yang begitu polos namun deterministic dan punya loyalitas terhadap apa yang diyakininya, maka ketika sampai pada suatu titik ketika dia harus menyerah, saya sebagai pembaca rasanya geram juga karena tak ada yang bisa saya perbuat untuk menyelamatkannya..hehe

Well, sampai sepersepuluh bagian terakhir buku ini, ceritanya belum komplit, jadi harus baca sampai halaman terakhir hingga kita bisa tahu apakah mereka semua bisa beristirahat dengan tenang.

Advertisements

About this entry