Poster Session dan Inferioritas

Hari ini saya melihat-lihat, berdiskusi, tukar kartu nama, pada acara poster session. Acaranya lumayan heboh. Para peneliti (yang umumnya Ph.D candidate) memamerkan penelitian yang sedang/sudah dilakukan, sambil sesekali menjawab pertanyaan dari yang kebetulan tertarik. Menarik melihat apa sih yang dilakukan orang-orang di luar sana? meneliti apa saja? bagaimana metodenya? apa hasilnya? Ada juga orang dari Linden Labs, memamerkan apa yang bisa dilakukan dengan Second Life. Tapi menurut saya ini hanya showcase, tak lebih.

Orang Jepang juga lumayan ada beberapa. Umumnya mereka lebih low-profile dan tertib dalam menjelaskan apa penelitian mereka (karena mungkin didampingi oleh sensei, jadi nggak bisa macam-macam..hehe). Kadang saking canggihnya, dan mungkin saya kurang bisa memahami apa yang mereka katakan, saya hanya manggut-manggut saja.
Beberapa penelitian dalam pandangan saya cukup menarik, challenging dan keren. Tapi ada juga yang…wah..kalau yang seperti ini  level Ph.D, gw juga bisa nih…. (tanpa sombong, sungguh, cuma berupaya mengukur diri).

Mungkin saya terlalu lama berada dalam sistem yang membuat saya kurang percaya diri dan kurang dihargai.
Itulah gunanya kita ikut dalam konferensi internasional. Kita bisa mengukur seberapa tinggi ilmu persilatan kita. Kadang yang kita pikir hebat itu, ya, nggak hebat-hebat amat. Metodenya itu-itu saja, parameternya bisa dicari, variabelnya juga. Kita juga bisa belajar bagaimana sebuah penelitian itu dilakukan. Jadi ketawa kalau mengingat kadang kolega saya lebih percaya kalau yang bicara orang bule. Wah, orang bule juga pinter ndhobos kok, atau paling tidak, kita sama kuat.
Inferioritas harus dihapuskan dari bumi..ITB dan Indonesia !!

Saya pikir yang kurang di kita adalah fasilitas dan dana. Universitas di Eropa rata-rata berdana penelitian besar. Dengan dana itu perangkat penelitian dapat diadakan. Orang macam saya yang sepenuhnya bergantung pada teknologi, akan nganggur kalau nggak ada perangkat canggih untuk meneliti. I am not social scientist. Kalau mau meneliti Virtual Environment atau Virtual Architecture akan omong kosong kalau tidak ada koneksi broadband (giga connection) dan high performance computer serta seperangkat sensor kaya head mounted display, touch screen dan lain sebagainya.
Bagaimana ini bisa dilakukan di ITB? misalnya.
Ya, kalau mau meneliti ini tidak di ITB.
Tapi masalahnya bukan hanya alat. Itu hanya ekses saja.
Seperti, uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang toh?

Beberapa penelitian ada yang menyangkut virtual environment, sudah saya jelajahi semua. Paling tidak saya tahu, kayanya riset saya nggak ketinggalan juga lah, baik dari segi teknologi, metodologi dan juga signifikansinya. Yet, I am still master student.:-)

Saya juga lihat banyak PhD candidate pada muda-muda, seger-seger (dalam arti harfiah dan imajinatif) dengan dandanan standard mahasiswa macam di film Good Will Hunting dan 21. T-Shirt, jeans/cargo pants,tank-top, backpack, earphone, snicker. Ini yang saya suka dari kehidupan kampus.  Pintar-pintar dan seger terus.

Wah, beberapa saat lagi saya harus presentasi. Semoga dapet diskusi menarik.

Advertisements

About this entry