Day Two in Vienna

Baru saja saya selesai ikut tourbus keliling kota Vienna. Selesai ikut sesi pertama konferensi, agak suntuk, jadi ikutan tourbus dengan biaya 20 Euro kayanya asik juga, daripada keliling-keliling berbekal peta kota (somebody help me with this keyboard, please. It is Deötsch).

Vienna is the city of Otto Wagner, famous architect. Not just because he was birthed here, but because his signatures are all over this place. From city hall, to hotel, to opera house , to post office,to city gate and bridge. He was quite busy back then. Vienna adalah laboratorium arsitektur. Dari mulai arsitektur klasik, Gothic, At Deco, Art Nuveau sampai post-modern/ deconstructivism-nya Coop Himmelb(l)au ada semua dalam satu kota. Ada satu distrik yang isinya museum semua, dan kayanya gak habis satu minggu buat masukin satu-satu. Saya hanya masuk ke salah satu museum yang kebetulan ada pameran bola (Fussball Einstellung) hehe..karena letaknya di KarlPlatz dan dekat dengan TU-Vienna.

Menurut informasi dari tourbus, Mulai dari Mozart, Strauss, Beethoven sampai Freud, semua tinggal di Vienna. Bahkan apartmen Sigmund Freud di Bergasse jadi museum hingga sekarang. Nggak heran, banyak museum, banyak gedung konser dan banyak galeri bertebaran di Vienna. Wah, jalan-jalan di sini serasa di kota berhala, hihi.. Banyak banget patung-patung, hampir di setiap persimpangan ada patung. Sejarah Vienna, menurut saya adalah sejarah akademisi, musisi dan seniman. University of Vienna adalah salah satu universitas tertua di benua Eropa. Austria juga banyak melahirkan Nobel Laurets macam Pauli (jadi ingat pelajaran SMP, kimia), Schrodinger dan..halah..mungkin banyak lagi.. Musisi klasik sudah tak diragukan. Jika senang mendengarkan musik klasik, akan terasa bedanya jika mendengarkan langsung dari tempat musisi tersebut dilahirkan. Kenapa ya, Beethoven bisa buat partitur seperti Symphony nu.9 yang amat sangat terkenal itu?. Terus, seni lukis. Lukisan The Tower of Babel yang terkenal itu ada di Kunshistorisches Museum alias museum seni sejarah.

Orang Austria juga sepertinya suka nongkrong di pinggir jalan sembari minum kopi dan baca. Banyak sekali kafe di pinggir jalan dan banyak sekali toko buku. Misalnya di sekitar TU-Vienna. Tu-Vienna nggak seperti kampus-kampus seperti kebanyakan di Indonesia. Bangunan-bangunan di kampus TUV bertebaran di sepanjang distrik di Karlplatz. Jadi nggak ada gerbang kampus apalagi pagar. Mungkin macam kampus-kampus ala Eropa dan Amerika, dimana satu kota itu ya, kampus.

As usual, pictures are after the break.

Advertisements

About this entry