This Time 20 Years Ago

Sembari menulis dan memverifikasi program dan bergulat dengan script, pikiran saya suka terkenang dan menjarah file-file lama yang tersimpan di kepala. At any given this time about 20 years ago, what had been done? Tahun 88, saya masih SMP. Not so bright, not so popular, but bright enough to get ‘juara umum ketiga’ and popular enough to umm… fooling around by some guys, with bicycle, there was/were girls but mostly I was too  chicken to say aloud on approaching. Ya.. dengan celana biru selutut, sekeren apapun, tetep aja anak SMP. :-). Tak pernah terbayang 20 tahun ke depan saya masih tetap sekolah, tapi di negeri yang saya hanya tahu dari film-film kartun robot (God Sigma was my favorite, Voltus V followed).

Tahun 88. Semua orang suka Duran-Duran, saya sukanya Trio Detektif. Musik bukan favorit saya waktu itu. Ditambah mana ada duit buat beli kaset barat yang kala itu sepertinya harganya Rp.1.500. Tapi ketika saya kenal Final Countdown, saya langsung suka Rock.

Saya ingat, saya suka sekali nongkrong di perpustakaan sekolah. Mungkin nongkrong bukanlah kata yang tepat karena seringnya saya duduk sambil baca bacaan favorit saya Disney Encyclopedia. Saya berkhayal suatu saat akan punya koleksi bagus macam ini. (Akhirnya kesampaian sebagian, sekarang punyanya Dhana). Dork? nggak juga, saya nggak suka belajar terus terusan, kesukaan saya pramuka dan main ping-pong di hall depan kelas. Saking senengnya pramuka, saya malah asik ngurusin kegiatan pramuka ketimbang belajar di kelas. Saya amat jago dibidang morse, dan saya punya TKK (Tanda Kecakapan Khusus) untuk itu..hehe. Bangganya ketika pakai seragam pramuka dengan selempang penuh TKK.

Tidak hanya kehidupan sekolah dan pramuka, saya ingat, saya suka bermain dengan petasan karbit. Pakai bambu dengan lubang di satu sisi. Sisi yang lain dilubangi bagian silindernya dan dimasukkan karbit dan air. Reaksi gas karbit dan api itu yang bikin bunyi dasyat. Sampai dikejar-kejar polisi di depan rumah. Tentu saja saya lari terbirit-birit bareng kawan. Belum lagi eksperimen bensin dan api yang hampir bikin bokong kawan saya melepuh karena terbakar, dan eksperimen dengan amplifier yang bikin mati lampu serumah. Kegagalan demi  kegagalan eksperimen yang mungkin menciutkan nyali saya jadi saintis. Well, terkadang rasa ingin tahu memang harus ditebus dengan malu dan rela dimarahi habis-habisan.

Ketika itu, rasanya dunia runtuh. Malu dan jadi sorotan tetangga. Belum lagi komplain orang tua yang bokong anaknya melepuh itu. Tapi kini, ketika saya menerawang lagi, lucu rasanya. Saya belum cerita beberapa eksperimen lain yang R-rated. 🙂 Semua itu bikin masa-masa itu sangat banyak warnanya.

Kok ya, bisa , sekarang saya sekolah tinggi dan jadi dosen, lagi.

Jadi, 20 tahun ke depan, ada di mana saya? Apa saya senang?

God works in mysterious way, indeed.

Advertisements

About this entry