The World Without Us – Alan Weisman

world without us

Melalui buku ini saya jadi terjaga, betapa sebenarnya rapuh sekali pondasi (harfiah maupun konotatif) peradaban manusia setelah kurang lebih 30.000 tahun menguasai rantai makanan dan berada di puncak piramida serta menyebar ke seluruh pojok-pojok planet bumi. Dulu sekali..eh..nggak terlalu dulu Michio Kaku dalam Vision pernah menyatakan bahwa peradaban manusia dalam hitungan stellar masih terlalu muda untuk dapat menjangkau peradaban antar bintang. Masalahnya, apakah planet ini masih punya umur sepanjang evolusi pengetahuan dan teknologi kita dalam menjangkau peradaban antar bintang itu?

Berumur baru 30.000 tahun dan binatang modern bernama manusia (Homo Sapien) telah membuat 95% spesies alam musnah. Musnah bukan hanya karena tuntutan biologis – seperti di hampir semua kitab suci agama mengatakan bahwa bumi dan isinya adalah untuk kita-manusia. Tetapi musnah perlahan-lahan karena kita-manusia menganggu harmonisasi jaringan hidup mahluk lain. (Jadi ingat Fritjof Capra- The Hidden Connection). Melalui kota-kota kita, jaringan transportasi, pabrik, rumah-rumah. Manusia terlalu pintar untuk dapat dibatasi ekspansinya secara alamiah. Dan kita merasa terlalu pandai untuk merasa dapat membatasi eksistensi makhluk lain.

Namun di saat yang sama, peradaban paling modern-pun menyadari bahwa alam punya mekanisme sendiri dalam menyeimbangkan dirinya akibat keberadaan mahluk yang satu ini. Kota-kota yang paling modern-pun tak lepas dari ancaman bencana alam akibat salah dalam menginterpretasi kekuatan alam. Jika kita tak ada, siapa yang akan menggantikan kita? apakah para zombie seperti di I am Legend atau para serangga yang memang punya mekanisme dasyat dalam bertahan hidup dalam selang waktu yang jauh lebih lama ketimbang kita?

Tapi bukankah modernitas memang berarti membuat lebih nyaman, lebih mudah – untuk manusia, dengan cara memisahkan diri dari segala yang liar, yang gelap, yang tak teratur. Yang artifisial – dalam bentuk yang paling environmental-friendly-pun terkadang tetap artifisial. Reality show tak akan pernah benar-benar reality. Kita memang dilahirkan untuk menjadi superior terhadap bumi dan mahluk lain. Michael Crichton dalam State of Fear, pernah bilang kalau modernitas adalah cara kita untuk survive, karena tanpa itu, kita kalah telak dengan yang lain, bahkan dengan sedikit force of nature sekali pun.

Well, really? What is it going to be when the world without us?

Buku yang imajinatif dan amat menarik.

Advertisements

About this entry