Blue energy yang nggak keren sama sekali

Saya sebenarnya agak sungkan untuk mengomentari apapun yang sedang hangat tentang negeri tercinta saya, Indonesia. Bukan hanya karena saya sedang tidak dalam posisi untuk memberi komentar. (masih jauh bo’, sekolah saja belum beres, jauh..), namun juga karena ada hal pribadi yang membuat saya menarik diri dari segala hal tentang Indonesia dan Bandung.

Tapi, ah.. namanya juga blog. jadi saya bebas dong ber-opini (blog aing, kumaha aing weee.). Ini tentang Blue Energy. Aih..yang (menurut saya) amat memalukan itu. Saya sih bukan orang listrik, fisika energi, kimia atau material. Saya orang desain dan digital architect, dan tulisan ini mah hanya dari sudut pandang dan kacamata saya saja selaku anak Indonesia yang kebetulan sedang belajar jauh dan berharap suatu saat nanti bangsaku bisa maju dan ilmu yang saya cari jauh-jauh ini ada gunanya.

Hype tentang Blue Energy ini sungguh memalukan. Sebagai orang yang pernah (dan masih) jadi mahasiswa, saya pastinya paham bahwa kalau yang namanya temuan atau inovasi atau pembuktian atau pencapaian atas suatu kajian ilmu pengetahuan itu pasti ada wadah dimana saya/kita/kamu/kalian selaku penemunya  HARUS menjelaskan ke peer/kolega/lingkungan/saingan/lawan/khalayak banyak tentang : apa dan bagaimana penemuan itu. Apa teori yang dipakai, apa teknologi dasarnya dan apa yang DITEMUKAN itu? Dan wadah itu namanya seminar/konferensi/jurnal/Nobel.  Tidak ada black box di dalam engineering (kalau di desain ada). Semuanya terukur, semuanya ada alasannya, dan itulah yang namanya penemuan ilmiah. Semua teknologi yang ada dan berserakan di sekitar kita awalnya hanya kertas-kertas jurnal, melalui serangkaian debat di lab dan konferensi, serangkaian eksperimen yang melelahkan, serangkaian GAGAL, belum lagi kalau diproduksi massal, harus berurusan dengan industri dan paten. Itu (hampir nggak mungkin deh) dalam waktu 1 tahun. Bukan karena saya sok barat atau nggak nasionalis, please deh. Saya hanya nggak suka orang Indonesia yang hanya mau serba instant dan maunya beda dari yang lain alias nggak mau berkompetisi.

Kata teman saya, Amerika dan Jepang puluhan tahun memecahkan misteri hidrogen sebagai salah satu energi utama untuk transportasi abad mendatang. Dan sejauh ini hasilnya hanya di jurnal dan prototipe. Carilah di internet pasti banyak temuan “beneran” tentang energi berbahan air ini. Itupun sepotong-sepotong : ada yang meneliti sistem penyimpanannya, katalisnya, pendinginnya dan banyak komponen lain. Ya, penemu juga manusia, gak bisalah seperti tukang sulap..mak bleng..kasih air, mobil jalan. (tell me I am sarcastic but truly this kind of wizard technology makes me sick). Saya, kita adalah manusia yang diberi hanya setitik pengetahuan, itupun kalau diberi umur panjang buat gali dan gali lagi pengetahuan itu dengan KONSISTEN.

Ok. saya sudah lamaaaa sekali nggak percaya dengan kemampuan anak kampung sendiri. Bukannya sok barat, anak kampung kita banyak yang mathematic intelligence-nya amat bagus. Tapi untuk jadi penemu sesuatu yang –kalau benar, mungkin aja bisa dapat Nobel-itu? Kok rasanya too darn good to be true. Nggak ada ceritanya atau nggak ada sejarahnya atau seperti..nggak mungkinlah design lahir di Nganjuk.

Macam itulah. No Offense.

Ini? yang ada hanya a bunch of out of nowhere so called inventor, yang ujug-ujug presentasi (bukan di konferensi dan jurnal) dan ujungnya adalah PROYEK. Maaf, bukan saya alergi dengan lokalitas (saya orang kampung), saya hanya alergi dengan sifat kampungan dengan kedok penemu, akademisi dan lain-lain. You guys give academic prestigious effort a really BAD name. Nggak keren sama sekali.

Kepada para rekan peneliti yang bersusah payah, berkorban begadang untuk eksperimen, ditolak editor jurnal, berulang kali gagal dan akhirnya perpanjang waktu studi. Please, don’t let this falling you down. You can either feel anger or violated.

Ini lagi. Kalangan akademisi seolah terpancing dengan debat ala kusir yang hanya menguliti masalah yang tak ada sangkut-pautnya dengan esensi masalah. Jadi aib sendiri terbuka kemana-mana. Urusan uang proyek, lingkaran dalam pemerintahan, undang-mengundang pakar dan malah sampai ada pengacara sebagai free-rider. What the hell is going on here?. Seriously guys, don’t give the media an eye candy headline. They don’t give a damn about energy.

Whffui..at least it’s like a whole burden comes out of my chest.

Advertisements

About this entry