The Ruins

the ruins

“it does for Mexican vacations what Jaws did for New England beaches” – Stephen King

Okelah. Saya belum tonton filmnya, tapi cukup baca banyak resensi yang umumnya kurang memberikan apresiasi kepada film tersebut. Saya sebenarnya tertarik kepada novelnya dengan judul yang sama : The Ruins. Untungnya di Kinokuniya ada dan langsung saya baca semalaman. 500-an halaman yang bikin saya baru tidur jam 5 pagi. Is it worth? Begini.

Pertamanya, saya tertarik The Ruins karena sepertinya ada misteri tentang sebuah peradaban di pedalaman Mexico (Maya), ada sebuah tempat yang dulunya (sepertinya) bekas suatu altar pengorbanan, dan ada suatu hal (atau..sesuatu) yang hingga sekarang menjadikan tempat itu : not a good place. Sepertinya ini page-turning novel, mirip ketika saya baca Da Vinci Code beberapa tahun silam.

Pada 400 halaman pertama, kata ‘the ruins’ hanya muncul paling banyak 5 kali. Tak ada apapun yang menjelaskan mengapa, bagaimana, kok bisa dan sebagainya yang pada dasarnya melatarbelakangi mengapa saya beli buku ini. Yang ada adalah cerita sekumpulan anak muda, didorong oleh arogansi dan gairah akan misteriĀ  peradaban kuno, mencoba menjelajah hutan dan akhirnya terperangkap dalam situasi (dan oleh sesuatu) yang membuat mereka..um…menyesali keputusan liburan ke Mexico ini. Penyesalan yang berbuah pada eksistensi mereka. (ups..spoiler ..)

Tidak seperti novel-novelnya Crichton, Clancy,Peterson dan lain-lain, ini mah lebih ke chick-lit, cuma horror. Kalau difilm-kan macam Scarry Movie-lah. Tak heran, tanpa elaborasi skenario dan sinematografi, adaptasi langsung ke film jadi nggak begitu bagus. Novelnya sendiri kurang elaboratif. Fokusnya jadi lebih ke pergulatan emosi, pengembangan psikologis dari masing-masing tokoh. Hmm…agak bosan dengan tema seperti ini. Memang, horror yang dibangun dengan entitas utamanya terletak di ruin-nya itu sendiri cukup membuat saya tak tidur semalaman. Kalau ada pengembangan cerita ke arah sejarah tempat itu, mengapa bisa terjadi hal yang sekarang terjadi, dan why the hell can it mimic any human behaviour? mungkin buku ini menjadi jauh lebih menarik. Ada banyak sekali pertanyaan dan keingintahuan saya yang belum terjawab sampai akhir halaman.

Mungkin Stephen King dulu pernah bikin yang agak mirip tapi ebih baik dengan Dreamcatcher.

Ada nasehat bagus dari paman salah satu tokoh (Stacey) yang bisa saya ingat hingga selsesai baca : There is the time when you get something you deserved, but not something you intended to. Be always think, always plan….Life has not come with a road map..(..alah..ini mah dari The Go Getter)

Advertisements

About this entry