Lost in Translation

lost

Dua orang terasing bisa bikin cerita.

Satu orang paruh baya, menikah sudah 25 tahun dan tampaknya pernikahannya berada diujung tanduk (Murray). Satu orang lagi masih muda, menikah baru dua tahun dan tampaknya tak begitu yakin dengan masa depan pernikahannya (Johannson). Dua-duanya teralienasi di Tokyo, dua-duanya teralienasi oleh orang terdekat masing-masing, dan ketika mereka bertemu, keduanya teralienasi oleh kenyataan atas status mereka masing-masing.

Memang tidak enak jadi orang terasing. Selalu ditinggal sang pujaan hati dan sendirian
di lingkungan asing di mana budayanya berbeda sama sekali dengan budaya di kampung halaman. Kebosanan dan kesendirian serta tak yakin dengan apa yang akan dicari dalam hidup membuat Charlotte mencari teman untuk cerita, seseorang yang ternyata bernasib sama dengannya.

Begitu juga dengan Bob. Pernikahannya selama ini ternyata tak membuatnya bersemangat dalam hidup. Hidup  segan – mati tak hendak. Sudah begitu, terjebak dalam kontrak pekerjaan yang membuat dia hidup sementara di lingkungan yang sama sekali asing. Klop, keduanya ketemu. Everyone wants to be found.

Apa kategori film ini? komedi romantis? Tapi nggak juga soalnya akhirya nggak klise seperti tipe finally,
I get you
. Agak lebih berat ke namanya persahabatan antara dua manusia yang saling kesepian. Lucu sekali
melihat tingkah Bill Muray yang selalu terlihat kikuk apalagi ketika adegan sedang digoda ‘geisha’…(‘lip’
my stocking, ‘lip’ my stocking..hehehe). Yang mengejutkan  ternyata ada Giovanni Ribisi, sang Frank-adiknya Phoebe di Friends. Aneh juga melihat dia akting agak serius di sini.
Lalu ada…,  Scarlett Johannson? wow.

Sofia Coppolla baru di awal 30-tahun membuat film ini – dan ternyata menyabet Oscar. Tema yang diangkat memang nggak biasa. Saya bisa tersenyum sendiri melihat bagaimana film ini menggambarkan kehidupan Jepang (Tokyo) yang kurang lebih seperti yang saya alami sehari-hari. Keramahan dan kesopanan sembari mereka  tetap berbahasa Jepang, pachinko, guitar hero, kampai, kehidupan malam. Sering saya merasa memang selalu lost in translation
(salah sediri belum bisa bahasa Jepang).

Ternyata kebosanan bisa menarik juga dibuat film. Ternyata tema romatis nggak harus berakhir di..well,
ranjang atau peluh nafsu, demikian juga dengan kesepian.
Atau, it once come in their mind tapi karena..lost in everything including
translate their own desire..jadi..ah..sudahlah.
Katanya, cinta itu hanya masalah who’s around.

Akupun nggak tahu.

Advertisements

About this entry