Embarrasing moment

Indonesianya kali : Nasibnya jadi mahasiswa berbiaya beasiswa.

Satu hal impian saya kalau sekolah di luar negeri adalah, kesempatan untuk berkiprah di ajang konferensi akademik sembari melatih kemampuan riset dan menulis. Alhamdulillah satu paper riset master saya diterima dan saya diberi kesempatan untuk bisa hadir dan memberi presentasi. Hanya kesenangan itu sedikit terganggu ketika saya harus mikir, duitnya gimana? Masa modalnya hanya tiket pesawat, akomodasi sama registrasi? emangnya gak makan? emangnya gak sightseeing? emangnya gak beli souvenir?

Itu juga yang bikin saya malu ketika apply visa di kedutaan Austria. Ketika staf kedutaan melihat data bank account saya, dia tanya? You don’t have much money, do you? How come you want to go to Austria? Seketika, kilasan komik strip di phdcmics.com berkelebat di pikiran saya. Yah, nasib jadi mahasiswa berbeasiswa. Gak pernah punya uang cukup banyak untuk bisa dianggap reliable.

Apakah saya harus marah dan ngamuk ketika ingat betapa para pencoleng uang negara melarikan uang bertrilliun hanya  untuk kepuasan pribadi dan keluarganya? atau para koruptor di daerah yang nilep uang anggaran hanya buat bikin puas hasrat dunianya? Di mana keadilan? Kenapa orang super kaya di Indonesia nggak sekolahin anaknya di sekolah paling bergengsi di dunia? Pastilah sangat nyaman jadi anak konglomerat yang nggak hanya muasin nafsu liar ketika sekolah di luar negeri, tapi juga manfaatin sumber dana yang gak terbatas buat muasin nafsu akademik. Rata-rata anak orang super kaya malah nggak kedengeran tuh sekolah di mana, ngerjain apa dan sudah publish paper berapa.

Di situlah keadilan.

Advertisements

About this entry