Fargo

Fargo

Terus terang saja, saya menonton Fargo jauh sebelum No Country For Old Man. Baru setelah nonton No Country, saya lihat banyak kesamaannya. Ya, yang buat juga sama.
Hanya saya, atau barangkali juga ada yang merasa waktu pertama nonton, film ini begitu datar dan minimalis (harfiah). Kalau karya lukis, ini mungkin realis dan sangat apa adanya. Kalau foto, ini karya foto jurnalistik yang memotret kehidupan atau kejadian apa adanya. Tanpa racikan parameter kamera yang rumit apalagi tambahan efek Photoshop. Tapi, seperti halnya No Country (yang pada awalnya juga saya nggak tahu kenapa bisa menang Oscar), Fargo mengesankan di cerita  dan penokohan. Lakon di Fargo hanyalah seorang polisi/sheriff  wanita yang ‘tanpa dandan’ dan sama sekali jauh dari stereotip Angelina Jolie di Wanted atau Uma Thurman di Kill Bill (tapi dia menang Oscar). Apalagi sang polwan ini sedang hamil. Samalah dengan tokoh sheriff tua yang diperankan oleh Tommy Lee Jones di No Country.

Banyak letupan-letupan kisah diantara jalinan cerita yang nyaris tanpa diiringi oleh
ilustrasi musik yang seperti biasa ada di film thriller. Sang sutradara sepertinya gemar bermain dengan
emosi penonton ketika sebuah kengerian diperlihatkan. Tidak sadis, tidak horor apalagi semacam Saw.
Kengerian seperti ketika tokoh yang diperankan Javier Bardem di No Country sedang memainkan koin
untuk menentukan apakah penjaga pom bensin itu akan dibunuh atau tidak. Begitu sunyi, biasa banget,
tapi kena banget. Di Fargo, adegan-adegan kejutan macam itu juga banyak. Dan orang biasa yang jadi pahlawan. Tak heran dapat Oscar untuk skenario dan aktris terbaik (polwan itu tadi, Francis McDormand).

Besutan Coen bersaudara ini memang bukan favorit untuk ditonton setiap orang. Saya juga pada awalnya
ngantuk, termasuk ketika nonton No Country. Baru ketika film selesai, rasanya baru terasa, pesannya
baru kelihatan, dan bagusnya film tadi baru ketahuan. Wah, bagaimana bisa buat seperti itu ya?
Ya, beda lah filmnya Coen dengan..misalnya Michael Bay yang penuh warna atau Oliver Stone yang
dalem banget, atau Robert Rodriguez yang murah meriah.

Eli Roth juga bilang ini film terbagus yang pernah dia tonton dan salah satu yang menginspirasi
dia untuk jadi pekerja film. Yah, akhirnya malah dia buat…..Hostel.

Advertisements

About this entry