The Rise of The Creative Class

creative class

Mungkin ini salah satu buku bagus yang wajib dibaca oleh semua mahasiswa baru – jurusan apapun di semua universitas di Indonesia. Mengapa? Buku ini menunjukkan beberapa fenomena luar biasa (walaupun dengan rujukan Amerika) dari pentingnya kebangkitan kreatifitas (pakai ‘f’ atau ‘v’ ?) di semua kalangan, semua lapisan masyarakat, dan terutama di kalangan so-called agent of change : students.

Kreatifitas di sini bukan dalam arti sempit dan naif, hanya terbatas pada bagaimana ‘otak kanan’ bekerja mengapresiasi fenomena. Namun kreatifitas sebagai ‘driving force‘ setiap orang untuk mencapai atau memperoleh nilai baru dari apapun yang dikerjakan  dan berinovasi (on its broader sense) atas apapun yang dilakukan.

Abad pasca industri (dimulai tahun 80-an) dan lahirnya abad informasi melahirkan entitas baru dalam masyarakat yakni creative core dan creative professionals. Tergolong dalam creative core adalah : lecturer, scientist, musician, architect, artist, engineer, film maker, software maker. Mereka adalah para endeavor baru yang selalu mencari lahan baru untuk berinovasi dalam ranah masing-masing dan mengubah wajah dunia dengan itu. Kalau di abad industri manusia bertahan hanya untuk makan, pada abad informasi manusia bertahan agar bisa mendapatkan eksistensi di masyarakat. Kebutuhan pokok bukan lagi masalah utama. Setidaknya – di Amerika.  Orang-orang inilah yang menjadi generator mesin-mesin ekonomi. Sekarang ini hampir semua perusahaan besar (apalagi di bidang IT) dimotori oleh orang-orang kreatif (padahal bukan lulusan ekonomi apalagi hukum). Industri hiburan dan gaya hidup menjadi industri dengan omset terbesar.

Tampaknya kreatifitas bukan hanya monopoli artis dan seniman doang.

We are all creative being by nature.

Semoga sejalan dengan pola pikir masyarakat  Indonesia yang suka bekerja keras dan gemar bermimpi, lambat-laun makin banyak orang-orang kreatif yang jadi motor-motor ekonomi baru.

Advertisements

About this entry