Wet and Dirty in Programming

Apalah artinya sebagai mahasiswa design computing tanpa…well,.. computing. Saya harus ‘belajar cepat’ bahasa pemrograman (phiewww..) tanpa sebenarnya harus terlalu hanyut dalam hasrat besar yang namanya ‘coding‘. Syukurlah dulu nggak jadi masuk informatika. Saya sadar diri, kemampuan algoritmik saya amatlah terbatas. Kemampuan menelusuri masalah menjadi rangkaian alur-alur linier yang merupakan basis ‘kecerdasan’ komputer, kuranglah saya kuasai-dan sukai. (Saya dapat nilai jelek waktu belajar Basic di SMA ).
Kalau abstraksi, nah..ini baru saya suka.

I just know it might be done but don’t know how to translate it into..well..Boo, C#, or Javascript.
Namanya juga otak desain, ini sekaligus menjadi beban. Usually, programmers don’t care about design, do they? Tapi kalau desainer ingin sekaligus mencoba-coba ranah coding bebannya dobel. Harus perhatikan desain aplikasi – sekaligus ‘mesinnya’. (Salah sendiri dulu masuk arsitektur)

Tantangannya baru sekarang. Setelah beberapa bulan bergulat dalam ranah desain dan aspek teknis lain, konsep dan framework, barulah sekarang nampak ‘demon‘-nya hehe. There is always a time when a man must face his own demon (kata Denzel Washington dalam Fallen). Ya, itu, karena sifatnya aplikasi, jadi musti belajar pemrograman. Sebenarnya tidak susah-susah amat karena yang akan dipelajari adalah Javascript (it is the easiest high level language…), kalau Java-nya sih saya bisa banget, meskipun nggak bisa yang Kromo Inggil…

Advertisements

About this entry