Menulis (academic paper) itu butuh ke-nekat-an

Saya ingat, dulu ada bukunya Arswendo (kalau nggak salah tahun 80-an), judulnya : “Mengarang itu gampang”. Mungkin memang iya bagi sebagian orang yang punya talenta, apalagi nulis di blog..hehe. Tapi menulis paper untuk konferensi internasional (hah, apalagi jurnal internasional – terakreditasi) adalah suatu hal yang sama sekali lain. Samanya cuma satu, sama sama butuh konsentrasi dan atensi (apa? perhatian, kali).
Saya dari jaman dulu di Bali belum pernah ikut kursus bahasa Inggris, paling-paling ikut kursus conversation waktu mau masuk SMP. Karena di Bali, paling tidak kalau ada turis bisa ngomong lah.
Waktu mau cari sekolah di Jepang, saya langsung ikut ujian TOEFL, modal nekat dengan dibekali kepercayaan diri setelah sering membaca textbook dan novel Inggris (apa hubungannya?) . Hasilnya, lumayanlah bisa lolos kualifikasi.
Setelah sekolah, baru merasa bahwa membaca dan ‘menulis’ adalah berbeda. Memang dengan banyak membaca, terutama textbook, jurnal dan lainnya, akan terkumpul pola-pola kalimat, frase dan kosa kata yang lebih banyak di kepala kita, sehingga ketika akan mulai ‘mengarang – bahasa Inggris’, kita bisa ambil tuh beberapa penggalan frase, kosa kata yang tersimpan di kepala tadi. Setidaknya ini pengalaman saya.
Tapi masalahnya baru dimulai sebenarnya. Kalau ‘mengarang’ – yang artinya menuliskan buah pemikiran kita dengan aturan semantik yang dasar, relatif mudah. Tapi menulis paper akademis lebih dari sekedar menuliskan buah pemikiran (riset) kita, kenapa?
1. Paper akademis haruslah runut. Pemikiran kita mengenai apa, mengapa, bagaimana riset dilakukan haruslah runut dari paragraf pertama hingga akhir. Nggak ada tuh namanya parallel storyline, flashback. Ternyata runut itu susah dan butuh latihan (banyak).
2. Paper akademis haruslah sederhana dan mudah dimengerti. Paradoksnya, paper yang bagus adalah yang mampu menjelaskan riset yang luar biasa rumit ke dalam bahasa yang mudah dimengerti. Susah bukan?
3. Paper akademis harus berisi referensi (silang). Ada kalanya riset kita sudah dilakukan orang, atau seseorang pernah melakukan sebagian dari riset kita. Dalam lingkungan akademik, penting untuk saling menghormati hasil jerih payah orang lain melalui referensi atau citation (apa Indonesianya?). Kalau di sepak bola : Fairplay
Jadi menulis paper akademis berarti juga belajar banyak, karena kita toh harus baca-baca paper orang lain, cari data di internet, belum lagi masalah itu tadi, struktur kalimat dan paragrafnya yang harus runut dan sederhana, tanpa bunga-bunga.
Tapi, yang utama adalah HARUS NEKAT. Kalau tidak, kita tidak pernah tahu bagaimana tanggapan orang lain terhadap karya kita. Entah topiknya, entah Inggrisnya. Nekat dulu, submit dulu, sudah itu lihat hasilnya dan perhatikan koreksinya.
Kemarin saya submit abstrak untuk tiga International Conference. Alhamdulillah satu ditolak (International Conference on Virtual Reality), dua diterima (ED-MEDIA 2008 dan eCAADe 2008). Sekarang tinggal bagaimana menuliskan full paper sesuai dengan kemajuan riset yang saya jalani.

Ada yang mau ikut ke Vienna? atau Antwerpen?….:-)

Advertisements

About this entry