My Name Is Red – Orhan Pamuk

my name is red

Saya coba membaca sebuah novel yang berbeda dari yang biasanya saya suka. Dari judul dan paragraf pengantar yang ada di belakang cover, akhirnya saya tertarik juga pada buku ini. Awalnya agak ragu, karena cerita ini yang juga menjadi pemenang Nobel 2006 pasti menggunakan langgam bahasa yang agak susah dimengerti. Tapi karena novel ini novel misteri, kisah cinta dan konspirasi yang mungkin ‘rame’, saya tancap gas buka halaman demi halaman.
MNiR adalah cerita tidak biasa karena beberapa hal. Yang jelas terlihat adalah cerita ini dituturkan bukan dari satu sudut pandang melainkan dari berbagai sudut pandang yang bukan hanya aktor-aktornya, melainkan juga benda-benda : pohon, kuda, koin, mayat, bahkan dari : kematian (I am Death ), merah (I am red). Dengan berbagai perspektif ini, cerita utama memiliki banyak sekali sub-plot tergantung dari siapa (atau apa) yang sedang bercerita. Kisah tentang percintaan yang rumit antara Shekure, Black, Hassan menjadi amat menarik karena kita disuguhkan langsung dari hati masing-masing dari mereka. Kritikus mengatakan membaca MNiR membawa kita seperti sedang bermimpi dan berkeliling di alam lain di mana segalanya bisa bercerita (everything tells a story).
Sebagai cerita misteri pembunuhan, baru kali ini saya membaca kisah pembunuhan yang dituturkan langsung dari jiwa sang terbunuh (Elegant Effendi, Ehniste Effendi) dengan detil yang amat memukau bahkan belum pernah saya temukan pada cerita detektif manapun. (mana ada cerita pembunuhan dimana jiwa sang terbunuh bertemu dengan Azrail? sang malaikat maut?).
Selain dua cerita di atas, sebenarnya MNiR adalah kisah mengenai kebudayaan. Kebudayaan Islam di Istambul yang tengah mengalami pergolakan, antara pengaruh barat (Frankish, Venesia) dan pengaruh kebudayaan Persia di mana Islam pernah mengalami kedigjayaan. Ditengah gejolak itulah, kelompok miniaturist (barangkali sama dengan seniman lukis?) berada pada garda depan yang bertanggung jawab baik kepada Allah, Sultan dan kebudayaan itu sendiri. Bayangkan, pada masa itu di dalam kebudayaan Islam, sangat diharamkan menggambarkan segala mahluk karena dikhawatirkan akan menjadi berhala- berhala baru. Kelompok miniaturist adalah satu-satunya kelompok yang bisa menggambarkan ciptaan Allah walaupun harus berkorban dengan kedua mata mereka.
Banyak sub-sub cerita yang menarik dan tentu saja penuh perumpamaan dan filosofi yang membuat paragraf demi paragraf dalam buku ini harus dibaca pelan-pelan. (karena sambil buka kamus). Terkadang bahkan grammar-nya pun baru saya temukan ketika membaca buku ini.

Membaca buku ini seperti menemukan kembali dongeng-dongeng 1001 malam dari kacamata penutur yang lain dan dengan muatan filosofi yang belum pernah saya temukan sebelumnya. Yang jelas saya menjadi tercerahkan akan kebudayaan Islam ditengah terjangan kebudayaan Rennaisance (hehe..teknik perspektif adalah dosa?) dengan segala keagungan dan sekaligus kerumitannya. Dogma agama yang sekaligus menjadi budaya menjadi sangat indah dituturkan oleh Orhan Pamuk di sini.

Advertisements

About this entry