Orang Jepang dan Bahasa Inggris

Sudah beberapa tulisan mengenai bagaimana kehidupan di Jepang dan karakteristik orang Jepang ditulis oleh orang Indonesia – tepatnya pelajar Indonesia. Saya yang baru seumur 2 kali panenan jagung mungkin sedikit dapat menambahkan hal kecil yang menurut saya bisa dikatakan ” nah, itulah orang Jepang, beda kan?“. Yang terasa pertama adalah, kenapa ya banyak orang jepang terutama generasi mudanya yang tidak/belum bisa berbahasa Inggris?. Awalnya saya merasa karena tempat saya sekitar satu jam dari downtown Tokyo mungkin wajar orang-orangnya tidak terbiasa berbahasa Inggris (bahkan pelajarnya!), namun ternyata tidak. Di Shinjuku, Tokyo, Yurakucho, Ginza, yang notabene kawasan core nya Tokyo Metropolitan, jarang juga tuh pelayan,
polisi, anak muda yang kalau ditanya dengan bahasa Inggris jawabnya bahasa Inggris juga.
Namun begitu ciri khas Jepangnya masih ada : selalu hormat dan cukup ramah dengan orang asing. Kalau sudah gitu, cas-cis-cus keluar dengan lancarnya dalam bahasa Jepang yang membuat saya merasa HARUS bisa bahasa Jepang juga.
Rata-rata orang Jepang ramah dengan orang asing. Ditanya sedikit, jawabannya banyak. Inilah kalau menurut saya role model yang bagus buat bangsa saya. Hihi, sudah bisa kasih ide untuk bangsa euy..
Bangsa Jepang bisa maju dengan segala kekuatannya sendiri tanpa harus kehilangan karakter dan budayanya. Rata-rata pelajar Jepang nggak bisa bahasa Inggris dan mereka rata-rata kerja di perusahaan dalam negeri. Jadi buat apa bahasa Inggris? toh kerja dan hidupnya di sini. Dan dengan kerja kerasnya itu, Jepang jadi salah satu pilar Asia di tengah hegomoni barat dalam segala bidang- termasuk itu tadi, bahasa . Untuk urusan ini saya sangat kagum dengan Jepang. Mereka tidak mau ikut-ikutan arus barat-isasi sampai ke kehidupan sehari-hari. Mereka mengambil beberapa esensi budaya dan kemajuan barat, dan dengan cerdiknya dikonversi ke dalam sistem mereka sendiri. Contohnya banyak, dari mulai mobil, telekomunikasi, kereta api, sistem pendidikan dan lain-lain. Tahun 20-an mereka banyak mencontoh dan “mencuri” ide ide dari barat, namun (ini bedanya dengan kita sampai sekarang) Jepang bisa akhirnya
mengembangkan sendiri bahkan bisa menjual ide ide tersebut dalam berbagai skala industri.
Mencontoh dan menjiplak tidak selalu berarti jelek asal bisa menghasilkan yang lebih baik.
Kita justru punya modal lebih baik. Sekolah dasar sudah diajar bahasa Inggris, bahkan masuk universitas ada standar kompetensi bahasa Inggris. Yang belum kita punya hingga sekarang adalah kerja keras di semua lapisan untuk kemajuan (sekali lagi, kemajuan) bangsa, bukan skala individu atau kelompok bahkan partai. Kita belum punya musuh bersama sih.. Dulu Jepang musuh bersama adalah sakit hati dan kepedihan atas kekalahan di PD-II, walaupun dalam sejarahnya memang Jepang  sudah anti orang asing (sampai pada era Meiji). Jadi masyarakat Jepang sangat kohesif, sangat solid. Tidak seperti pasir yang mudah cerai-berai.
Era kerajaan dan kekaisarannya hampir mirip dengan kita- bahkan sampai sekarang Jepang masih kekaisaran toh? Tapi toh bisa maju juga.
Saya berpikir bahwa kita dilain pihak – ditengah banyaknya masalah-masalah lain – memiliki masalah akut di dalam kebudayaan kita (mungkin bukan kebudayaannya yang salah) yakni kurang bersatu – kurang kohesif. Terlalu banyak adat dan sub-budaya yang berbeda di tambah tidak adanya nation building, membuat sampai kini kita masih saja bergelut dengan masalah dalam diri sendiri. Boro-boro memikirkan isu strategis geo-politik. Terlalu banyak saling injak, saling lempar kesalahan, saling ingin untung sendiri (tentu saja dikompori oleh pihak-pihak yang memang ingin kita selalu begini).
Terlalu sering saya menemui orang-orang yang pada dasarnya  tidak ingin kita itu miskin, terpuruk, korup dan lain-lain tapi kenyataannya kok masih saja ada yang korup, yang selalu mengeluh, yang selalu mengkritik, yang ambil untung untuk kepentingan sendiri. Orang-orang itu masuk dari mana sih?.
Sebenarnya tidak terlalu penting sih, bahasa Inggris lancar atau tidak, kalau kita memang punya karakter kuat dan punya posisi ekonomi kuat dalam skala bangsa.
Ujung-ujungnya bangsa ini harus kaya bukan?
Apa jadinya kalau negara saya yang punya sumber alam sangat melimpah, kebudayaan yang amat beragam, suatu saat bisa menemukan ‘pola permainan‘ dalam konstelasi dunia?
Saya berkhayal suatu saat kita punya pemimpin yang sangat kuat, “diktator” yang baik,
yang visinya hanya satu : kemajuan bangsa! (itu sudah mencakup semuanya toh?).



Advertisements

About this entry