Sedih – Sekolah saya rangkingnya turun euy

Saya terlahir kebetulan dari keluarga yang sangat biasa-biasa. Bapak saya pegawai negeri, ibu saya di rumah, mengurus kami berempat. Tidak ada trah profesor atau lingkungan akademik di rumah kami. Saya pun menjalani SD bukan di sekolah favorit. Hanya karena dekat rumah. Namun karena di SD saya juara satu terus, saya bisa sekolah di SMP yang favorit, hingga SMA yang favorit hingga sampai ke ITB yang waktu dulu sangat menjadi favorit saya. Terus terang saya bangga sekali masuk ke ITB kalau melihat latar belakang saya. Meskipun sebenarnya saya tidak terlalu peduli sekarang dengan pemeringkatan, namun tetap saja ada
mengusik kepala saya. O, ternyata sekolah saya ternyata sudah bukan nomor satu (saat ini).
Kurang keren juga sih. hehe.
Pembenarannya, kita akan kurang terpacu kalau berada di atas terus, jadi sekali waktu harus ditaruh di bawah. Hihi..bisa saja.
Saya harus banyak belajar dan berkontribusi. Apa yang bisa saya lakukan? hanya belajar saja saat ini. Belajar dan (mudah-mudahan) bisa sumbang publikasi.
Kalaupun ada hal atau tradisi yang dari mulai saya mahasiswa dulu hingga sekarang masih saja ada di sekolah saya, yang jelek, (kalau itu bisa jadi salah satu variabel rangking) adalah :
1. Iklim di sekolah saya sangat kompetitif kalau tidak mau dikatakan non-kooperatif alias ‘bantai-membantai’. Jadi staf muda seperti saya, wah jauhlah dipandang meski cuma sebelah mata. Academic value saya belum akan dipandang, apalagi jika bidang ketertarikan yang saya tekuni belum ada ‘precedent‘ atau belum ada ‘professor‘nya. Malah akan dikatakan sebagai ‘hobi’ saja. Yang muda dianggap selalu belum pantas dan belum punya cukup referensi ilmiah untuk mempublikasikan sesuatu.
2. Ironinya, lingkungan saya sepertinya terhalusinasi oleh pemikiran bahwa kalau yang berbau ‘luar’ akan selalu punya academic value lebih tinggi. Kalau ingin membuat publikasi, acuannya harus referensi luar negeri sehingga tidak pernah kesampaian tuh usaha publikasinya. What a waste of time and effort.
3. Belum ada character building. Semua orang bekerja sendiri-sendiri untuk kepentingan sendiri-sendiri. Kalaupun ada ide untuk berusaha memperbaiki bersama-sama, maka pencetus ide itu yang harus ketiban tanggung jawab mengurusi itu semua.(jangan tanya kalau ternyata eksekusi ide itu belum sukses..). Been there, done that . Lumayan lelah juga.
4. Lingkungan saya tak peduli dengan namanya pencitraan atau publisitas.Nampang di TV, koran, majalah, internet dianggap terlalu populer dan karenanya tidak masuk dalam mileu akademik. Sudah berbusa juga saya menggerakkan betapa media internet bisa jadi sarana publikasi yang bagus juga (webometric) tapi apa daya, tidak pernah ada urgensi mengenai update website dan lain-lain, seolah itu hanya jadi hobi atau tugas teknisi IT saja. Saya sering bertanya-tanya apakah tidak sebaiknya kita menyeimbangkan antara kehidupan selebritas (populer dikalangan awam) dan peneliti (populer di kalangan akademisi)? Asik juga ya kalau tulisan kita sering nampang di koran, majalah, tapi paper kita juga sering tembus ke jurnal.
5. Penunjang itu semua, secara finansial kampus saya terbilang miskin. Jadi kalau saya hanya bisa mengajar dan meneliti (dengan iklim dan skema sekarang) maka bisa dipastikan saya akan kehilangan kesempatan menikmati hidup besama keluarga ada tingkat yang lebih baik..hehe. Meskipun ada beberapa kolega yang dahsyat secara kualitas meski keadaanya seperti ini.
Jadi di ITB itu kata kuncinya : susah banget dan miskin. (tapi masih juga bangga, kaya saya ini)
Jadi kenapa saya masih juga betah di sana?
Dan yang lebih penting adalah : Gimana bisa berbuat yang lebih baik kalau secara mental itu lingkungannya susah (banget deh), dan secara fisik pendapatannya minim?
Saya sudah apatis sama pemerintahan negeri ini tapi (sebenarnya) saya tidak akan mau apatis dengan sekolah saya.
Apa kuncinya ada di saya? masing-masing dari komponen ini yang harus selalu bekerja keras, stay sharp, well-known dan segala kemasyuran akademik lainnya?
Wah masih jauh deh..

Advertisements

About this entry