Beowulf dan Ratu Pantai Selatan

beowulf
Selalu asyik untuk mengikuti sejauh mana teknologi komputer sudah sedemikan jauh dalam industri film. Sebelum ini ada Final Fantasy : Spirit Within (2001), film animasi pertama yang punya ambisi menampilkan karakter virtual serealistis mungkin. Di tahun itu, film ini menurut saya cukup heboh karena belum pernah Hollywood berani untuk menyuguhkan cerita yang seluruh aktor/aktrisnya adalah virtual. Meski film ini kedodoran dari segi cerita dan dialog. Tapi paling tidak, Jepang mempelopori jalan panjang menuju digitalisasi dalam industri film. Setelah itu, banyak sudah dan sudah menjadi tak aneh lagi film-film dengan spesial efek buatan komputer, mulai dari seri Harry Potter, trilogi Lord of the Ring, trilogi Spiderman , 300, I am Legend , Golden Compass dan banyak lagi. Kebanyakan intervensi komputer ada pada special effect atau pada bumbu pemanis, penambah greget dan suasana dalam film. Digital special effect sudah sedemikian jauh untuk sekedar menampilkan atmosfir, bencana alam, fantasi dan mahluk-mahluk hidup yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya atau mustahil dibuat tanpa bantuan komputer.
Namun yang belum berani dielaborasi adalah jika pemeran utama atau seluruh aktor/aktrisadlm film tersebut adalah virtual– aktor digital seperti halnya Final Fantasy. Bagaimana mengetengahkan keseluruhan cerita film yang berarti ada emosi, gesture, perilaku, tindak-tanduk semuanya oleh aktor digital tanpa harus kecapaian dengan segala urusan 3D modelling, texture mapping, lighting dan segala technical aspect lazimnya dalam 3D environment? Bagaimana kita tetap kagum pada cerita dan pesan yang disampaikan tanpa terganggu oleh kenyataan bahwa film tersebut hanyalah film animasi?
Sebelumnya saya menyangka Beowulf hanya film fantasi seperti halnya 300. Tapi ternyata film ini full 3D actors seperti halnya Final Fantasy. Lompatan terbesar dari teknologi Computer Generated (CG) Character adalah pada realisme yang ada pada masing-masing aktor. Realisme yang saya maksud adalah pertama, tatapan mata. Sebelumnya, hal tersulit bagi teknologi CG character adalah bagaimana membuat karakter tersebut ‘hidup‘ melalui tatapan mata dan gesture wajah. Mata dan tatapan mata adalah hal yang berbeda. Membuat model mata atau wajah secara keseluruhan mungkin sudah biasa. Tapi membuat tatapan mata dan wajah yang memiliki ’emosi’ dan ‘jiwa’ adalah hal yang amat sulit. Di Beowulf, gap itu sudah sedemikian kecil. Saya sering menyangka bahwa yang bermain disitu adalah benar-benar Antony Hopkins , John Malkovich dan Angelina Jolie- bukan model komputer dari mereka bertiga.
Kedua adalah tekstur. Membuat tekstur mahluk hidup selain manusia mungkin sudah biasa dan bahkan mahluk tersulitpun bisa di-generated dengan komputer. Tapi tekstur manusia berbeda, ada kulit, bulu-bulu halus, otot dan nadi. Sebelumnya tektur manusia masih tampak seperti plastik yang ditumbuhi rambut, namun di Beowulf , kulit manusia benar-benar hampir tanpa cacat model dan tektur. Ketiga adalah mulut ketika berbicara. Singkronisasi antara ucapan dan gerakan mulut serta wajah adalah hal yang sulit. Sebelumnya singkronisasi hanya pada mulut dan ucapan. Namun ketika manusia berbicara, yang bergerak bukan hanya mulut tapi keseluruhan otot wajah dan bahkan tatapan mata sehingga apa yang diucapkan seolah tercermin pada keseluruhan gesture wajah.
Kalau ada yang masih belum sempurna itu adalah kinematik. Gerakan atau animasi yang diciptakan oleh komputer masih terlihat artifisial. Gestur lengan, bahu, pundak, kaki seolah terlihat masih dilakukan oleh sekumpulan algoritma. Masih terlalu ‘diatur’. Walaupun sudah menggunakan teknologi motion capture. Tapi saya pikir tak lama lagi CG akan menemukan teknik baru dalam hal ini.
Tak lama lagi kita akan menikmati jajaran aktor-aktor virtual dalam satu film, bahkan mungkin yang sudah meninggal (?) tanpa kita merasa itu hanyalah film animasi.
Tidak hanya pada teknologi CG, cerita Beowulf sendiri sebetulnya menarik. Mirip dengan Ratu Kidul ya?.
Hal yang mengganggu saya di akhir film cuma…kenapa Ibunya Grendel musti pakai high heels ya? Itu kan jaman 500-an sebelum masehi? (wah ternyata sudah keburu ditanya juga oleh beberapa kritikus..) dan juga..it’s not arousing to watch such erotica in full CG movie..no matter how appeal it is…:-)

Advertisements

About this entry